MANAGED BY:
SELASA
12 DESEMBER
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | ARTIKEL | KOLOM | EVENT

KOLOM

Senin, 19 Juni 2017 19:02
Menjaga Keberagaman dan Kedamaian NKRI
Ilustrasi. (net)

PROKAL.CO, Oleh : Ananda Wijaya )*

AKSI solidaritas sejuta lilin di beberapa kota di Indonesia yang awalnya dipicu oleh vonis dua tahun penjara untuk Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang berlangsung damai, kini temanya diperluas untuk menjaga keberagaman dan kedamaian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Di sejumlah daerah antara lain Jakarta, Denpasar, Medan, Balikpapan, Surabaya, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara dan berbagai tempat lain hampir semuanya diisi dengan penyalaan lilin, menyanyikan lagu-lagu nasional dan doa dari tokoh lintas agama untuk NKRI damai. Namun demikian tak sedikit beberapa kelompok yang menilai bahwa aksi tersebut juga menunjukkan adanya rasa khawatir, rasa cemas akan sepak terjang kelompok radikal dan intoleran yang ingin mengganti dasar negara.

Pemerintah dan sebagian besar warga bangsa tentu tidak menginginkan adanya perpecahan di bumi Nusantara yang hanya karena disebabkan oleh perbedaan suku, agama, ras dan sejenisnya. Kebhinekaan yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa hendaknya terus dijaga dan dirawat untuk mempererat persatuan dan kesatuan.

Komitmen untuk menjaga kebhinekaan hendaknya menjadi pembelajaran dari semua pihak, khususnya para elit yang sedang mengemban amanat mewujudkan cita-cita kemerdekaan berupa masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. Karena bagaimanapun juga gaduh ini, besar atau kecil ada kaitannya dengan hajatan atau kegiatan politik.

Salah satu tujuan berpolitik adalah untuk meraih atau merebut kekuasaan. Akan tetapi merebut kekuasaan dengan cara- cara yang inkonstitusional hanya akan menimbulkan kegaduhan, bahkan bisa mencerai beraikan bangsa ini. Tahun 2018 yang akan menghelat pilkada serentak di 17 provinsi serta 154 kabupaten dan kota, serta tahun 2019 yang akan melangsungkan pemilihan presiden dan wakil presiden serta DPR, DPD maupun DPRD Provinsi, Kabupaten dan Kota, bukan tidak mungkin apabila hajatan politik ini akan meningkatkan eskalasi politik di berbagai tingkatan.

Manuver, akrobat politik sudah mulai disusun bahkan dimainkan guna memenuhi ambisi kekuasaan. Kita ingin mengingatkan, aksi komitmen menjaga NKRI yang kini muncul di berbagai daerah adalah indikator masyarakat yang sudah tidak bisa dibodohi lagi oleh berbagai manuver yang mengatasnamakan rakyat, bahkan mengatasnamakan agama. Masyarakat sudah muak dengan opera sabun politik, dagelan politik, dan politik tanpa etika yang disajikan para elit yang seakan haus dan rakus akan kekuasaan.

Sulit menemukan negarawan yang benar-benar berpikir untuk masa depan bangsanya. Semuanya serba pragmatis dan transaksional. Tidak malu melakukan korupsi dan tidak malu melindungi dan membela yang salah. Harus diakui permasalahan bangsa ini cukup kompleks dan hanya bisa diurai dan ditangani dalam situasi dan kondisi yang tenang dan damai.

Kalau setiap saat gaduh dan ribut, bisa dipastikan tidak akan menyelesaikan masalah, justru menambah masalah. Untuk itu, kita berharap komitmen menjaga dan merawat NKRI yang muncul dari warga bangsa ini menjadi energi untuk bangkit dan fokus menyelesaikan masalah yang ada. Menjadikan yang lupa menjadi eling, yang pemarah menjadi sabar. Berpikir baru bicara, bukan berbicara baru berpikir.

Fenomena pemberiankarangan bunga yang dikirim berbagai  elemen masyarakat untuk TNI dan Polri belakangan ini merupakan bentuk dukungan kepada institusi  tersebut dalam menjaga Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika dan  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hingga hari ini fenomena ini pun terus mengalir hingga  ke daerah.

Hal ini bisa dibaca sebagai indikator keresahan sekaligus kekhawatiran banyak pihak terhadap kondisi kekinian negeri tercinta ini. Demikian juga jakan atau gerakan untuk memasang DP (displaypicture) lambang negara Burung Garuda pada layar telepon genggam bisa dimaknai sebagai langkah mengingatkan bangsa ini untuk menjaga keutuhan dan kebhinekaan.

Kekhawatiran tersebut tidaklah berlebihan dan memang harus disikapi secara tegas. Mengingat akhir-akhir ini dengan mengatasnamakan kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat, terdapat beberapa kelompok masyarakat yang hendak memaksakan keinginan dengan menggunakan kekuatan massa.

Mereka merasa paling benar sehingga apa pun keinginannya harus dituruti. Unjuk rasa tidaklah dilarang, mengeluarkan pendapat memang dijamin undang-undang. Tetapi semua ada batasannya, ada aturannya, ada etikanya. Sehingga ketika sudah di luar batas kepatutan dan melanggar aturan, aparat harus bersikap dan mengambil tindakan tegas.

Sejarah bangsa ini sudah jelas. Dengan ribuan pulau yang membentang dari Sabang hingga Meraoke dan dari Miangas hingga Rote, dengan berbagai etnis, suku, agama dan adat istiadat, telah sepakat mengikat diri dalam NKRI dalam kebhinekaan yang berpondasikan Pancasila serta UUD 1945. NKRI tidak mengenal mayoritas dan minoritas. Dengan demikian tidak boleh ada riak-riak yang mengancam keutuhan NKRI dan akan mengganti Pancasila.

Mari belajar dari negara lain seperti Suriah, Irak dan beberapa negara lain yang porak poranda akibat perseteruan antarwarga bangsa yang berebut kekuasaan. Perang saudara tiada akhir yang membuat semua menderita, semua tersiksa dan tidak ada waktu untuk membangun. )*Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia


BACA JUGA

Selasa, 07 November 2017 11:11

Dana Aspirasi Diwujudkan Alat Pertanian

PULANG PISAU - Sejumlah petani di wilayah Pulang Pisau akhirnya bisa bernafas lega. Usulan permintaan…

Senin, 06 November 2017 07:59

Duhhhhh Bikin Jengkel..!!! Kendaraan Ngebut Dikeluhkan

SAMPIT-Anggota Komisi IV DPRD Kotim, Muhammad Shaleh mengeluhkan laju kendaraan berkecepatan tinggi…

Rabu, 18 Oktober 2017 16:19

Uji Kemampuan Manajemen, Calon Sekda Tegang

SAMPIT – Lima peserta calon Sekretaris Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur, memaparkan makalah…

Sabtu, 07 Oktober 2017 22:21

Membangun hingga ke Ujung Negeri

Oleh: Robertinus Sulu )* Jokowi mencanangkan program nawacita, salah satu programnya adalah membangun…

Sabtu, 07 Oktober 2017 22:14

Isu SARA dan Hate Speech Ancam Pilpres 2019

Oleh : Robertinus Sulu )* Bercermin pada pelaksanaan Pilpres 2014, maraknya penyebaran isu yang berbau…

Sabtu, 07 Oktober 2017 22:11

Isu Komunis dalam Kepemimpinan Jokowi

Oleh: Dodik Prasetyo )* Manuver Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965, sampai saat ini masih…

Senin, 02 Oktober 2017 08:19

Dewan Minta Maksimalkan Pajak Reklame, Ternyata Selama Ini..

SAMPIT-Ketua Komisi I DPRD Kotim, Handoyo J Wibowo  meminta agar penggalian Pendapatan Asli Daerah…

Minggu, 24 September 2017 00:28

Menjelang Tiga Tahun Membangun Indonesia

Oleh: Agung Prasetyo )* Memasuki tiga tahun pemerintahan Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang tepat…

Minggu, 24 September 2017 00:24

Antisipasi Kebakaran Hutan 2017

Oleh: Yanuar Manurung )* Kebakaran hutan..... Apakah yang pertama sekali pembaca bayangkan ketika mendengar…

Sabtu, 16 September 2017 23:32

Bisnis di Balik Konflik Rohingya

Oleh: Jefry Untung )* Beberapa waktu belakangan ini tentu konflik Rohingya menjadi Headline news di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .