MANAGED BY:
MINGGU
17 DESEMBER
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | ARTIKEL | KOLOM | EVENT
Selasa, 14 November 2017 17:30
Induk Dibunuh, Anak Owa-Owa Terlantar

Satwa Langka Disinyalir Masih Diperdagangkan

DILINDUNGI: Yosi menyerahkan dua ekor owa-owa yang sempat dipeliharanya.(BKSDA FOR RADAR SAMPIT)

PROKAL.CO, SAMPIT – Dua ekor owa-owa ditemukan warga di Simpang Sebabi, Kecamatan Telawang, Kotawaringin Timur. Dua ekor primata itu terlantar setelah induknya diduga dibunuh. Satwa langka tersebut kemudian diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Komandan Pos Jaga BKSDA Sampit Muriansyah mengatakan, owa-owa itu diserahkan Yosi, warga Baamang Hulu, Kecamatan Baamang. Yosi mendapatkan kedua owa-owa itu di tempat dan waktu yang berbeda.

”Induk owa-owa ini telah dibunuh warga. Karena kasihan, Yosi lalu mengambil dan merawat kedua owa-owa tersebut,” jelas Muriansyah, Senin (13/11).

Yosi sempat memberi nama owa-owa berjenis kelamin jantan itu. Owa-owa berusia 5 tahun diberi nama Ijon dan yang berusia 1,5 tahun diberi nama Boy. Keduanya sementara waktu diamankan di Pos Jaga BKSDA Sampit. Selanjutnya akan diserahkan ke Yayasan Kalaweit untuk proses rehabilitasi.

Muri menjelaskan, owa-owa termasuk salah satu hewan yang dilindungi undang-undang. Masyarakat dilarang memelihara, apalagi memperjualbelikan. ”Kami sangat berterima kasih kepada warga yang ikhlas menyerahkan satwa dilindungi ini. Bagaimanapun juga hewan ini dilindungi, tidak boleh dipelihara. Jika ada yang mengetahui atau masih memelihara, silakan hubungi kami. Kami akan bantu mengantarkannya ke habitat yang seharusnya,” kata Muri.

Menurut Muri, tidak menutup kemungkinan masih ada warga yang memelihara satwa langka dilindungi. Bahkan, ada indikasi memperjualbelikannya. Sebab itu, Muri tak hentinya mengimbau masyarakat untuk menyerahkan ke pihaknya.

Satwa langka di Kalimantan seperti owa-owa, orangutan, beruang madu, burung rankong, dan lainnya kini terancam kelangsungan hidupnya. Habitat mereka menciut seiring terus berkurangnya kawasan hutan yang dijadikan lahan perkebunan dan pertambangan.

Kondisi ini tak jarang, memaksa satwa mendekati permukiman penduduk untuk mencari makan dan sangat rawan terjadi konflik yang membahayakan satwa maupun  manusia. (mir/oes/ign)

  


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .