MANAGED BY:
SELASA
24 APRIL
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | ARTIKEL | KOLOM | EVENT

KOLOM

Minggu, 18 Maret 2018 00:35
Pilkada Damai Menjadi Kebutuhan Bersama
Ilustrasi. (net)

PROKAL.CO, Oleh: Dodik Prasetyo )*

Gegap gempita pelaksanaan Pilkada 2018kini sudah mulai terasa.Mesin politik pun sudah mulai bergerak dan menerapkan berbagai strategi untuk dapat memenangkan pasangan calon yang diusung dalam kontestasi Pilkada di setiap daerah.  Beberapa cara tersebut diantaranya adalah melalui kampanye di media sosial sebagai bentuk  sosialisasi hingga mencari keburukan pasangan calon lain. Pilkada kali ini juga terbilang cukup besar.

Sebab, pilkada  akan dilaksanakan  di 171 daerah yang berbeda, yang terdiri dari 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Beberapa provinsi tersebut diantaranya adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dengan banyaknya daerah yang akan menggelar Pilkada serentak, maka sulit untuk menepis kekhawatiran tentang munculnya potensi kampanye hitam.

Jika menengok kebelakang,khususnya saat masa pendaftaran pasangan calon, masyarakat sempat dikejutkan dengan beredarnya foto syur mirip salah satu Paslon yang akan maju dalam Pilkada Jawa Timur. Demi menghindari polemik di masyarakat, kandidat tersebut akhirnya mengembalikan mandatnya kepada partai yang mengusungnya.

Sementara itu, salah satu calon dari Partai Gerindra yang gagal maju di Pilkada Jawa Timurmengaku pernah dimintai sejumlah uang bernilai miliaran rupiah sebagai mahar politik jelang Pilkada. Situasi ini  seakan mengoyak akal sehat masyarakat luas dan tujuan pemilu sebenarnya yang merupakan jalan untuk mencari pemimpin yang berintegritas dan profesional.

Ketakutan akan kembalinya hingar bingar politik seperti di Pilkada DKI Jakarta juga menjadi momok yang perlu untuk segera diantisipasi.Publik tentu masih ingat saat sekelompok ormas mendengungkan aksi yang melibatkan massa berskala massif dalam waktu yang berdekatan dengan pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta.

Selain memberikan tekanan kepada salah satu Paslon, tingginya tensi politik tersebut telah membelah masyarakat dalam kelompok-kelompok tertentu. Bahkan, muncul kasus yang cukup memilukan yaitu penolakan shalat jenazah karena orang yang meninggal dianggap sebagai pendukung salah satu calon kepala daerah.

Harus dapat diakui bahwa perdebatan tentang politik gagasan dan program-program pembangunan masih sedikit terjadi. Padahal, program dan politik gagasan merupakan modal utama yang harus dimiliki oleh setiap Paslon agar dapat meraih suara terbanyak masyarakat. Perdebatan yang membangun dan mencerdaskan mutlak untuk dihadirkan ke tengah masyarakat guna mengukur seberapa pantas Paslon tersebut untuk duduk di kursi kekuasaan.

Politik gagasan dan perdebatan seputar program-program pembangunan dirasa lebih bermanfaat untuk dibahas dibandingkan dengan politisasi SARA. Perdebatan semacam ini juga harus dipupuk mulai saat ini dari level masyarakat sehingga diharapkan dapat menggeser isu-isu SARA yang dapat memicu tindakan intoleransi seperti penolakan pemandian jenazah, ujaran kebencian, atau persekusi di masyarakat. Berkaca pada pelaksaan Pilkada di DKI Jakarta, aksi persekusi dan intoleransi umumnya dipicu oleh perbedaan pilihan politik di masyarakat.

Mau tidak mau , setiap pihak harus mendorong agar setiap Paslon mengobral politik gagasan dan adu program. Jangan sampai pilkada justru dipenuhi oleh bibit kebencian, yang sengaja dimunculkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Upaya ini harus dapat dicegah,  agar tidak menyebar menjadi provokasi yang bisa merugikan semua pihak. Jangan sampai Indonesia yang damai dan tenang ini, berubah menjadi Indonesia yang penuh dengan konflik. Jika hal ini terjadi, dikhawatirkan akan memicu terjadinya kebencian di tengah masyarakat.

Deklarasi wujudkan kampanye damai dan penolakan terhadappolitisasi SARA sebenarnya sudah dilaksanakan oleh masing-masing Paslon di banyak daerah yang menggelar Pilkada antara lain di Pilwakot Bekasi, Pilgub Kaltim, hingga Pilgub Sultra. Kendati demikian, hal ini dirasa belum cukup untuk meredam potensi berkembangnya hoax maupun kampanye hitam lainnya di masyarakat, yang umumnya menyebar melalui media sosial.

Hoax sendiri diciptakan untuk membuat kekacauan, kegelisahan, rasa benci, dan bahkan juga rasa ketakutan bagi pembacanya. Dampak yang ditimbulkan dari berita hoax akan sangat luar biasa antara lain, berupa dampak sosial,ekonomi, politik, keamanan dan yang lebih besar adalah bisa mengancam keutuhan negara.

Berkaitan dengan Pilkada, hoax sengaja diciptakan untuk menjatuhkan Paslon lain. Salah satu contoh penyebaran hoax yang dilakukan secara sistematis adalah tertangkapnya kelompok Saracen dan Cyber Army oleh kepolisian.

Kita patut mengapresiasi tindakan Kepolisian dan intelijen yang berhasil mengungkap kelompok penyebar Hoax  di media sosial seperti Saracen dan Cyber Army. Namun di sisi lain, keberadaan kelompok penyebar kebencian tersebut sebenarnya telah mengindikasikan bahwa hoax dan ujaran kebencian telah menjadi komoditas yang dapat diperjual belikan.

Pelaku bisnis penyebar kebencian melalui dunia maya (e-hate) mengambil keuntungan melalui provokasi lewat berita-berita bohong (hoax) yang secara terus menerus diproduksi sesuai pesanan. Secara umum, pelaku kejahatan tersebut menyebarkan konten-konten yang menyudutkan suku, agama, ras, atau pandangan politik yang berlawanan dengan si pemesan.

Dengan kecanggihan teknologi dan kebebasan berekspresi yang dinikmati masyarakat Indonesia, pelaku kejahatan tersebut terus menjalankan bisnis kebencian yang memiliki daya rusak yang sangat besar bagi keutuhan negara.

Jika berkaca kebelakang, salah satu isu yang kerap muncul saat ini adalah isu PKI yang dialamatkan kepada salah satu Paslon. Patut disayangkan apabila setiap menjelang Pemilu, isu seperti ini selalu muncul ke permukaan. Sebab, selain menjatuhkan Paslon dengan cara jahat, masyarakat awam akan terkena imbasnya dengan mempercayai isu-isu tersebut sehingga dapat memicu gejolak berkepanjangan.

Berkaca pada realitas tersebut, sudah sepatutnya kita sebagai masyarakat untuk selalu menyaring setiap berita yang beredar. Kita juga seharusnya tidak mudah terprovokasi dan harus hati-hati dalam menyaring informasi agar kita semua menjadi bagian pengontrol yang baik dan menjadi masyarakat yang bisa menjaga tali persaudaran agar tercipta keamanan dan kedamaian.

Apabila kita sudah terpengaruh oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab itu, berarti kita sedang berada di dalam lingkaran masyarakat yang tidak beradab terlebih apabila isu tersebut secara jelas menyerang pemerintah atau menebar kebencian kepada pihak-pihak tertentu.

Setiap pihak mutlak untuk mewujudkan pilkada damai yang bebas dari kampanye hitam. Salah satunya adalah dengan  terus menebarkan pesan-pesan sehat, yang tidak provokatif, dan tidak menyudutkan sebagai sebuah komitmen bersama di tahun politik ini.

Di sisi lain, kita juga mengharapkan agar setiap ucapan dan perilaku yang ditonjolkan oleh elit politik mampu menyejukkan para pendukungnya. Selain itu, setiap Paslon yang maju dalam Pilkada juga dituntut untuk menujukkan kedewasaan berpolitik dengan mengedepankan politik gagasan dan adu program.

Mulai saat ini, sudah saatnya kita menebar kedamaian dalam hajatan demokrasi ini. Jangan hanya karena hasrat ingin berkuasa, maka setiap pihak menghalalkan segala cara yang justru dapat menciptakan perpecahan bangsa.

Sebagai mahluk politik, sudah sewajarnya jika memiliki perbedaan pandangan politik maupun pilihan dalam Pilkada serentak. Namun, perbedaan tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk saling membenci dan bermusuhan, apalagi hingga menyebabkan konflik horizontal.

Apapun alasannya, persatuan dan kesatuan harus berdiri diatas segalanya.  Mari jadikan pilkada sebagai wahana untuk mendewasakan kita dalam berpolitik, berbangsa, dan bernegara.

Pilkada juga diharapkan dapat mengakomodasi beragam kepentingan, bukan sebagai alat untuk menghantam mereka yang bersebarangan. Keharmonisan dan kerukunan harus tetap terpelihara di negeri ini. Karena Indonesia dibangun bukan untuk setahun dua tahun, namun untuk selama-lamanya. )* Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)


BACA JUGA

Jumat, 20 April 2018 10:09

Siswa Diwajibkan Ikut Praktik Manasik Haji

SAMPIT – Sebanyak 378 siswa dan siswi kelas X semua jurusan di SMKN 1 Sampit, mempraktikkan manasik…

Selasa, 17 April 2018 19:40

Penyakit Langka, Masih Bisa Disembuhkan

Muhammad Lintang Arsya Saputra lahir tak sempurna. Kondisinya memprihatinkan. Bayi lucu itu tidak memiliki…

Sabtu, 14 April 2018 10:06

Personel Damkar Perlu Latihan

SAMPIT –Ternyatamasih banyak personel di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kotim…

Senin, 02 April 2018 12:02

Disdik Jamin Soal UNBK Tak Bocor

SAMPIT – Ujian nasional berbasis komputer (UNBK) jenjang SMA/MA dan SMK di Kabupaten Kotawaringin…

Selasa, 27 Maret 2018 09:25

Dua Hari Penilaian, DLH Optimis Raih Adipura

SAMPIT – Tim terpadu dari Badan Lingkungan Hidup Kalteng melakukan penilaian Adipura di Kota Sampit…

Minggu, 25 Maret 2018 01:24

Butuh Upaya Bersama Memerangi Narkoba

Oleh: Alfonsius Ladi Ola )* Narkoba menjadi salah satu pembunuh berdarah dingin yang menghancurkan Indonesia.…

Minggu, 25 Maret 2018 01:20

Bijak Bermedia Sosial di Era Milenial

Oleh: Sulaiman Rahmat )* Media sosial  adalah sebuah wahana untuk bersosialisasi satu sama lain…

Minggu, 25 Maret 2018 01:17

Rakyat Cerdas, Pilih Pemimpin Berkualitas

Oleh: Indah Rahmawati )* Mencari pemimpin berkwalitas memang tidaklah mudah. Apalagi untuk sebuah wilayah…

Minggu, 25 Maret 2018 01:12

Media Sebagai Garda Kampanye Damai

Oleh: Stevanus Sulu )* Beberapa waktu belakang ini, isu hoax semakin menggila di Indonesia. Mulai dari…

Minggu, 18 Maret 2018 00:32

Jaga Masjid dari Kepentingan Politik

Oleh: Dodik Prasetyo )* Sebentar lagi, beberapa daerah di Indonesia akan melaksanakan pemilihan Kepala…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .