MANAGED BY:
SABTU
22 SEPTEMBER
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | ARTIKEL | KOLOM | EVENT

METROPOLIS

Sabtu, 18 Agustus 2018 16:38
Beras Produksi Katingan Diklaim Daerah Lain
DIKLAIM: Usai proses penggilingan, beras produksi Katingan dikemas dalam karung yang berlabel dan beralamat di luar daerah.(DARNIANSYAH FOR RADAR SAMPIT)

PROKAL.CO, KASONGAN - Wilayah Kecamatan Mendawai dan Katingan Kuala sejauh ini merupakan lumbung padi di Kabupaten Katingan, bahkan di Provinsi Kalteng. Produksi gabah keringnya cukup menggembirakan. Per hektare rata-rata mampu menghasilkan enam ton. 

Darniansyah, warga Desa Mendawai, Kecamatan Mendawai, mengatakan, dalam setahun, petani bisa panen gabah kering mencapai dua kali. Bahkan, untuk varietas tertentu, masa panen dapat dilakukan tiga kali setahun. Hanya saja, hasil pertanian tersebut sering dimanipulasi daerah lain.

”Beras hasil panen di wilayah kita banyak dibeli dan akhirnya memakai merek atau label daerah lain, seperti Pulang Pisau dan Pangkalan Bun,” ungkapnya, Jumat (17/8).

Meskipun praktik tersebut tidak melanggar hukum, dia mengaku miris dengan fakta tersebut. Pasalnya, belum ada satu pun label beras milik pihak swasta maupun pemerintah daerah asal Katingan.

”Produksi beras kami sekarang ini rasanya lebih enak, karena dari proses panen hingga pengemasan dilakukan secara cepat. Jadi, tidak sampai basah kena hujan dan lain-lain. Intinya, masih segar," jelasnya.

Sejak beberapa tahun terakhir, jelasnya, petani di dua wilayah tersebut mendapat bantuan modal untuk membeli alat mekanisasi. Dengan demikian, proses tanam hingga panen semuanya memanfaatkan teknologi pertanian, sehingga lebih efektif dan efisien.

”Kalau pakai mesin, sawah seluas satu hektare cuma perlu beberapa jam untuk dipanen. Kalau dulu, bisa sampai berhari-hari. Faktor inilah yang membuat produksi gabah di daerah melonjak," tuturnya.

Tingginya minat pengusaha asal luar daerah membeli gabah kering di Katingan, lantaran harganya murah. Pengusaha membeli gabah kering dengan kisaran antara Rp 8.000 hingga Rp 8.500, tergantung varietas. Setelah dikemas, beras berlabel itu dijual dengan harga mulai Rp 12.000 sampai Rp 13.000 per kilogram.

”Para pengusaha dari luar daerah itu beli gabah dari petani kami, lalu dilabel dengan karung yang telah mereka persiapkan. Secara logika, artinya beras kami sudah diklaim orang luar. Ada beberapa merek yang saya ketahui dan tidak ada satu pun yang beralamat di Katingan," sebutnya.

Masyarakat, khususnya petani, pada dasarnya tidak menyalahkan pengusaha yang memanipulasi kemasan di label beras tersebut. Mereka lebih memetingkan pasar. Artinya, beras mereka laku dan cepat terjual. Sebab, para pengusaha bermodal tebal itu sanggup menampung produksi gabah petani hingga puluhan ton.

”Adapun beras yang kerap diklaim tersebut, di antaranya jenis hibrida dan melati. Dua jenis varietas ini dinilai memiliki rasa yang lebih enak dibanding jenis lain. Artinya, beras lokal saat ini mampu bersaing dengan produksi dari luar pulau. Diperkirakan label beras itu sudah dipasarkan ke berbagai wilayah Kalteng bahkan Pulau Jawa," ujarnya.

Meskipun belum ada pihak yang merasa dirugikan atas praktik dagang semacam itu, dia berharap Pemerintah Kabupaten Katingan tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah mengatasi persoalan tersebut. Pasalnya, sebagian pihak mengkhawatirkan bahwa ke depan bakal terjadi persaingan pasar yang tidak sehat.

”Salah satu kendala kenapa kita tidak bisa memasarkan beras sendiri, yaitu karena terbentur ketiadaan infrastruktur jalan. Sampai saat ini belum ada jalan darat yang sampai Kasongan atau Sampit," pungkasnya. (agg/ign)

 


BACA JUGA

Jumat, 21 September 2018 15:19

Sekolah Jurnalistik Radar Sampit 2018 Ditutup dengan Manis

SAMPIT - Sekolah Jurnalistik Radar Sampit ditutup dengan "manis". Sorak disertai tepukan tangan bergema…

Kamis, 20 September 2018 13:17

SIAPA MINAT??? 20 Alat Berat Usang Dilelang

SAMPIT – Alat berat termasuk daftar barang yang bakal dilelang oleh Badan Pengelolaan Keuangan…

Kamis, 20 September 2018 13:14

Walau Hujan, Peserta Tetap Semangat

SAMPIT – Sekitar 30 lebih mahasiswa semangat mengikuti event Sekolah Jurnalistik yang digagas…

Rabu, 19 September 2018 17:57

Dari Mentaya ke Sungai Musi

SAMPIT – Lembaga Pemasyarakatan Sampit mengalami pergantian pucu pimpinan. Mokhamad Khaeron digantikan…

Rabu, 19 September 2018 17:54

Tes CPNS Batal Per Zonasi

SAMPIT – Pelaksanaan tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Kalimantan Tengah (Kalteng) batal…

Rabu, 19 September 2018 10:52

Makin Agresif setelah Dijejal Materi

SAMPIT – Hari kedua pelaksanaan, peserta Sekolah Jurnalistik Radar Sampit tetap bersemangat. Meski…

Selasa, 18 September 2018 16:06

Sepakat Libatkan Auditor Independen

SAMPIT – Perselisihan antara pengurus baru Koperasi Omang Sabar Parenggean dengan PT Uni Primacom…

Selasa, 18 September 2018 16:04

WADUWWWWW!!!! Korban CU EPI ”Mengamuk”

SAMPIT – Puluhan nasabah yang menjadi korban kasus dugaan penggelapan dana simpanan Credit Union…

Selasa, 18 September 2018 08:45

Perekaman KTP-El di Kotim Harus Dimaksimalkan

SAMPIT – Petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kotawaringin Timur diminta…

Selasa, 18 September 2018 08:44

Dandim 1015 Perkuat Tim Sepak Bola Bupati

SAMPIT— Turnamen sepak bola piala kemerdekaan turut diramaikan kehadiran Bupati Kotim Supian Hadi,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .