MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | ARTIKEL | KOLOM | EVENT

SAMPIT

Kamis, 18 Oktober 2018 09:11
Menikmati Keindahan Sekaligus Kehancuran, Berebut Keluar dari Wilayah Bencana

Ketika Wartawan Radar Sampit Menjadi Korban Bencana di Palu (2)

TINGGAL KENANGAN: Penulis saat menikmati keindahan Pantai Tanjung Karang di Donggala, salah satu wilayah pusat gempa.(RADAR SAMPIT)

PROKAL.CO, TIADA yang tahu kapan datangnya musibah. Sehari sebelum kejadian, saya seperti diberikan kesempatan menikmati keindahan alam di Donggala dan Palu. Kurang dari 24 jam setelahnya, gempa menghancurkan keindahan itu.

DESI WULANDARI, Sampit

Puncak liburan saya ke Tanah Kaili sebenarnya untuk menyaksikan Festival Budaya Palu Nomoni. Pembukaannya sedianya dilaksanakan Jumat (28/9) malam, di Pantai Talise. Pada Rabu (26/10) sebelumnya, saya sempat menghabiskan sore di pinggir pantai hasil reklamasi yang jadi menjadi kebanggan warga Palu itu.

Sambil menikmati segarnya es kelapa yang mengaliri tenggorokan, saya memperhatikan panitia persiapan festival budaya tengah sibuk menyiapkan panggung dan tempat acara.

Tak ada isyarat apa pun dari alam saat itu, bahwa akan ada bencana besar. Saya benar-benar hanyut menikmati pantai yang tepat berada di tengah kota itu. Hal yang tak bisa didapat di Kotim. Deburan ombak kecil di pinggir pantai dan warga yang menunggangi kuda di bibir pantai, menjadi pemandangan indah sore itu.

Keindahan itu hanya tinggal kenangan. Beberapa hari setelah diterjang tsunami, saya memberanikan diri melihat pantai itu. Pinggir pantai tempat saya bersantai dan jalan yang saya lalui sudah hilang. Kawasan reklamasi buatan manusia itu seolah diambil kembali oleh pemiliknya; alam.

Pengunjung yang berencana menyaksikan pembukaan Festival Budaya Palu Nomoni pada Jumat (28/9) malam, yang berada di pinggir Pantai Talise dan tidak melarikan diri saat gempa, kemungkinan sudah tersapu tsunami yang hanya berselang lima menit dari guncangan gempa.

Kabarnya, sehari setelah bencana, mayat manusia banyak bergelimpangan di pantai itu.  Bencana juga membuat Jembatan Ponulele, kebanggaan Palu, persis di pinggir pantai roboh diguncang gempa.

Selain Pantai Talise di Palu, Pantai Tanjung Karang di Donggala, yang berhadapan langsung dengan laut lepas, juga habis disapu tsunami. Keindahan laut yang saya lihat sebelumnya, porak poranda.

Warga Donggala yang saya temui di Palu pascagempa menceritakan, pinggir Pantai Tanjung Karang habis disapu tsunami. Saya seperti diberikan kesempatan sang pencipta untuk menikmati indahnya pantai itu, sehari sebelum bencana datang.

Sekitar pukul 17.00 WITA, saat saya pulang ke Palu, saya masih sempat membeli Dange, makanan dari sagu, khas Palu, yang dijual di tepian Pantai Talise.

Saya paling senang menyisiri jalan di pinggir Pantai Talise, salah satu pemandangan Masjid Terapung Arqam Bab Al Rahman menjadi salah satu yang indah menurut saya.

Pascadiguncang gempa dan diterjang tsunami, masjid itu rusak. Salah satu tiang pendiri masjid patah. Bangunannya miring, meski tetap berdiri megah di tepi pantai.

Keesokan harinya, Kamis (27/10), saya melanjutkan jadwal liburan saya menuju Pantai Tanjung Karang di Donggala. Jaraknya hanya 30 kilometer dari Kota Palu. Menghabiskan waktu satu jam menggunakan mobil.

Pantainya bersih, biru, hijau, dan keindahan lautnya yang luar biasa, membuat saya cukup lama berenang. Tiga jam lebih saya melakukan snorkling melihat terumbu karang dan ikan berwarna-warni di dalam laut.

Malamnya, sekitar pukul 21.00 WITA, saya memutari Kota Palu, bahkan sampai ke Bukit Padang Jese, tempat saya mengungsi keesokan harinya. Melihat Kota Palu dari atas bukit membuat saya takjub.

Sinar lampu kota membuat saya seperti melihat bintang bertaburan. Hal yang juga tidak pernah saya temui di Kotim. Siapa sangka, sehari setelahnya, setelah melihat keindahan itu, esok malamnya, saya justru melihat lagi Palu dalam situasi berbeda; kehancuran..

Saya sangat kagum pada keindahan Kota Palu. Kota yang dikelilingi bukit dan pantai itu menyuguhkan keindahan pemandangan alam yang luar biasa. Hal itu membuat setiap pelancong mendapatkan paket lengkap jika berlibur ke kota itu.

Saya datang untuk menikmati keindahan. Namun, saya pulang dengan menyaksikan kehancuran. Tak ada satu jengkal pun wilayah di Palu yang luput dari guncangan gempa.

Trauma mendalam masih sangat dirasakan warga Palu. Termasuk saya, yang hampir sepekan terkurung di kota itu. Saya yang menumpang tinggal di rumah rekan saya pascagempa, tidak ada yang berani tidur di dalam rumah.

Rata-rata semua orang tidur di halaman dan jalanan depan rumah. Selama sepekan saya tidur di halaman depan rumah, beralaskan tikar beratap langit. Hari keempat setelah gempa, baru ada bantuan tenda.

Saat gerimis, kami bangun dan pindah ke teras rumah. Ketakutan menyergap semua orang apabila tidur di bangunan beratap ketika terjadi gempa susulan. Setiap kali gampa susulan datang, tanah berdentum. Atap rumah bergoyang, sehingga saya langsung siaga bangun untuk lari.

Dari hari kedua sampai hari terakhir saya di Palu, Sabtu (6/10), gempa susulan dengan skala kecil hingga berasa guncangan masih terus terjadi. Saat gempa datang di malam hari, saya langsung duduk terbangun.

Bahkan, kami sempat berlarian keluar dari teras rumah. Sebab, gempa susulan selalu datang siang dan malam, sehingga selama beraktivitas harus selalu siaga kendati terlelap di malam hari.

Bagi saya yang tinggal di daerah yang tidak pernah terjadi gempa, hal tersebut jadi pengalaman yang tak akan terlupakan. Peristiwa yang membuat saya takut dan merasakan trauma. Namun, semua itu saya lawan agar tetap bertahan hidup.

Kondisi kota menjadi sibuk dan kisruh. Suara ambulans silih berganti karena lokasi rumah rekan saya tidak jauh dari Perumnas Balaroa. Setiap senja datang, situasi langsung mencekam.

Kota masih diselimuti kegelapan karena listrik belum normal. Tak ada orang yang bisa tidur nyenyak.

Sepekan saya merasakan hal demikian. Upaya untuk segera keluar dari Palu terus saya lakukan. Kondisi bandara selalu saya pantau. Hari ketiga pascagempa, saya pergi ke Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu. Ternyata, di sana ribuan orang mengungsi. Semua berharap segera ada penerbangan dan meninggalkan Palu.

Ada ribuan orang masuk menerobos ke Bandara. Beberapa orang tidur di bawah pesawat Hercules, berharap agar segara diangkut keluar dari kota bencana.

Saat di bandara, Palu kembali diguncang gempa berkekuatan 5,2 SR. Itu membuat semua orang, termasuk saya, yang berada di bawah bangunan bandara, berhamburan berlarian keluar.

Saya lalu memutuskan kembali ke rumah teman saya untuk mengamankan diri sampai situasi kondusif dan penerbangan komersil beroperasi kembali. Saya baru bisa keluar dari Palu pada Minggu (7/10). (*/bersambung)


BACA JUGA

Rabu, 14 November 2018 16:23

NAHH!!!! KPK Panggil Dua Anggota DPRD Kalteng

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil dua anggota Komisi…

Rabu, 14 November 2018 16:18

AWASSSSS!!!! Tes Wawancara CPNS Peluang Kecurangan

SAMPIT- Guru Besar Universitas Palangka Raya Prof Suandi Sidauruk mempertanyakan,…

Selasa, 13 November 2018 16:13

PERLU SIAGA!!! Curah Hujan Masih Tinggi

SAMPIT – Sebelas jam lebih Kota Sampit dan sekitarnya diguyur…

Selasa, 13 November 2018 10:41

SAMPIT WASPADA!!! Fenomena Mabuk Air Rebusan Pembalut

SAMPIT – Baru-baru, marak pemberitaan maraknya remaja mabuk air rebusan…

Senin, 12 November 2018 13:46

ADUHHH!!!! Konsultan Perencana Hambat Dua Mega Proyek

SAMPIT–Dua proyek multiyears terancam dibatalkan. Sebab, CV Permata Kreasindo Konsultan…

Senin, 12 November 2018 09:04

BREAKING NEWS!!!! Sampit Dikepung Banjir, Jalan-Jalan Terendam

SAMPIT- Kota Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dikepung banjir. Banjir…

Sabtu, 10 November 2018 15:24

TERNYATA!!! Ini Biang Kerok Penghambat Pembangunan Sektor Pendidikan

SAMPIT – Anggaran yang tersedot untuk program pembangunan tahun jamak…

Sabtu, 10 November 2018 10:42

Wihhh Ngeri!!! Acil Salbiyah Nyaris Disambar Predator Sungai

SAMPIT – Salbiyah, warga Desa Belanti, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang,…

Sabtu, 10 November 2018 10:31

Ubah Air Gambut Jadi Listrik, Bisa Bertahan sampai 30 Jam

LAHAN gambut setiap tahun selalu dikenal sebagai produksi asap paling…

Jumat, 09 November 2018 16:52

MENYEDIHKAN!!! Guru Kontrak Terancam Tak Digaji

SAMPIT – Guru berstatus tenaga kontrak dan digaji dari APBD…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .