MANAGED BY:
MINGGU
17 FEBRUARI
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | BARITO | KOLOM | EVENT

PANGKALANBUN

Rabu, 06 Februari 2019 12:14
Sempat Bersinar saat Demam Batu, Kini Mulai Meredup Lagi

Melihat Eksistensi Pengrajin Batu Kecubung di Sukamara

PENJUAL BATU PERHIASAN: Salah satu kios penjual perhiasan dengan berbagai jenis batu, termasuk Kecubung yang masih bertahan hingga saat ini di Kota Sukamara.( FAUZIANNUR/RADAR SAMPIT)

PROKAL.CO, Kota Sukamara berjuluk Kota Permata. Permata yang dimaksud tak lain adalah Batu Kecubung (amethyst). Batu mineral kuarsa ini beragam warna, tetapi yang lebih dikenal dengan warna ungu. Di pasaran dijual berbagai bentuk, harga berkisar puluhan ribu sampai puluhan juta rupiah, bergantung kualitas batu dan ukuran. 

Fauziannur, Sukamara 

JIKA bertandang ke Sukamara, umumnya yang dicari pertama kali oleh para pendatang adalah batu kecubung. Batu yang termasuk kelas batu mulia atau permata kelas 2 dengan kekerasan 7 pada skal Mohs tersebut selalu diburu sebagai cindera mata dari Sukamara. Namun sayang, keberadaannya tak lagi sebanyak era tahun 80-an.

Dulu, menemukan pengrajin batu mulia ini cukup mudah. Bahkan terdapat sebuah jalan yang hampir semua warganya bekerja sebagai pengrajin batu, sampai-sampai jalan tersebut dinamakan Jalan Kecubung.

Seiring sulitnya mencari bahan baku, peralihan lapangan pekerjaan warga, jumlah pengrajin pun sedikit demi sedikit berkurang, hingga saat ini jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Era 80-an, batu ini cukup dikenal di luar daerah seperti Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel), Pontianak Kalimantan Barat (Kalbar) hingga pulau Jawa. Saat era keemasan kayu di Kalimantan, kerajinan batu menjadi primadona mata pencaharian warga.

Kala itu, pengumpul batu cukup banyak, terutama dari Pontianak, Kalbar. Mereka selain datang sebagai pengangkut kayu, sekaligus membeli batu-batu hasil olahan tangan warga.

“Dulu penampungnya banyak dari Pontianak. Sekali jual bukan hitungan ratusan set, tetapi ribuan set. Harga jualnya cukup murah, sekitar tiga sampai lima ribu rupiah saja per set. Satu set batu terdiri dari mata cincin, mata kalung dan mata giwang,” terang Rusmani, salah seorang pengrajin batu.

Namun meredupnya era perkayuan menyebabkan jumlah pembeli berkurang. Apalagi bahan baku mulai sulit dicari, ditambah banyaknya perusahaan perkebunan mulai dibuka, sehingga banyak warga yang biasa bekerja pencari batu beralih pekerjaan dan sebagian bekerja di perusahaan perkebunan.

“Dulu bahan baku banyak dibeli dari Ajang, Lupu, Semantun, Nibung Terjun. Kualitas batu disana sangat bagus,” cerita Rusmani.

Sempat meredup puluhan tahun, mendadak kembali bersinar dikala masyarakat Indonesia demam batu sekitaran tahun 2015 silam. Pengrajin yang sebelumnya beralih pekerjaan mulai kembali menekuni keahlian lama mereka. Namun naik daunnya batu mulia ini tak bertahan lama. Demam batu mulai sembuh, pasar batu kecubung pun mulai dingin lagi.  

“Memang sekarang pembeli sudah berkurang, tetapi tidak sepi seperti sebelumnya. Masih ada pengrajinnya dan menjual ke luar Sukamara. Di Jawa masih banyak peminatnya dan harga tidak seperti musim batu. Sekarang sudah turun harga,” tambah Amat, pengrajin batu lainnya. (*/fm)

 


BACA JUGA

Sabtu, 16 Februari 2019 15:36

Anjayyyyyy..!!! Pecandu Narkoba Mengaku Anggota BNN

PANGKALAN BUN - Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kotawaringin Barat…

Sabtu, 16 Februari 2019 15:32

Tim PLN-ITS Explore Indonesia Mampir di Kobar

PANGKALAN BUN - PLN Blits Explore Kalimantan sukses digelar, setelah…

Sabtu, 16 Februari 2019 15:29

Sepekan, Evakuasi Tujuh Sarang Tawon

PANGKALAN BUN – Tugas Pemadam Kebakaran tidak hanya berurusan dengan…

Sabtu, 16 Februari 2019 15:24

Bikin Cemas..!!! Awan Tsunami Muncul di Langit Kolam

KOTAWARINGIN LAMA – Gumpalan awan hitam berbentuk seperti gelombang Tsunami…

Sabtu, 16 Februari 2019 15:18

Di Kobar, DBD Mulai "Makan" Korban

PANGKALAN BUN – Penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten…

Sabtu, 16 Februari 2019 09:12

Tingkatkan SDM, DPD Perpamsi Gelar Workshop

PANGKALAN BUN – Dalam rangka meningkatkan kapasitas Perusahaan Daerah Air…

Jumat, 15 Februari 2019 15:21

Hilang Dua Hari, Mbah Jamin Ditemukan

NANGA BULIK - Dua hari menghilang Muhammad Jamin (79) alias…

Jumat, 15 Februari 2019 15:08

ASTAGA..!!! Rumah Terbakar, Kakek Stroke Nyaris Terpanggang

PANGKALAN BUN – Ketenangan malam warga Desa Kumpai Batu Bawah…

Jumat, 15 Februari 2019 15:03

Iddihhhhh Ngeri..!!! Ingin Mandikan Anak Malah Temukan Ular Piton

PANGKALAN BUN - Seekor ular Piton ditemukan melingkar di bawah…

Jumat, 15 Februari 2019 11:38

Terapkan Manajemen Risiko di SOPD

PANGKALAN BUN – Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*