MANAGED BY:
MINGGU
05 DESEMBER
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | BARITO | KOLOM | EVENT

KOTAWARINGIN

Rabu, 20 Oktober 2021 09:51
BMKG Kobar Tepis Isu Serangan Gelombang Panas

 Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Iskandar Kotawaringin Barat menepis isu cuaca panas yang melanda Kabupaten Kotawaringin Barat akibat dampak gelombang panas.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Iskandar Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat Aqil Ihsan mengatakan, suhu udara yang terasa panas di Kobar dalam beberapa hari ini terjadi akibat posisi matahari yang tepat di atas ekuator dan pada bulan September matahari seolah berada di sisi selatan.

Sementara pada bulan Oktober ketika matahari seolah-olah berada di sebelah Selatan garis khatulistiwa, radiasi sinarnya meluas dan berakibat suhu udara di beberapa wilayah di Bumi makin panas. “Hal itu lebih ke gerak semu matahari juga, posisi matahari dari khatulistiwa pada September mulai menuju ke belahan bumi Selatan,” terangnya, Senin (18/10).

Kendati demikian cuaca panas yang dirasakan saat ini masih terbilang normal bila mengacu ke gerak semu matahari, maka gerakannya akan terus menuju ke arah Selatan sampai Desember nanti.

Ia juga mengatakan, suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari yang merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun. “Potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya,” ungkapnya.

Ia menyebut bahwa berdasarkan ikhtisar cuaca di Kabupaten Kotawaringin Barat periode Oktober 2021, suhu udara pada tanggal 11 Oktober 2021 mencapai 32,4 derajat Celcius, kemudian 12 Oktober 33,4 derajat, 13 Oktober 33,6 derajat. Dan pada tanggal 14 dan 15 Oktober sempat menurun yaitu 32,4 derajat dan 29,8 derajat. Namun pada 16 Oktober kembali naik 34,0 derajat dan tanggal 17 Oktober 2021 suhunya mencapai 34,1 derajat Celcius. “34.1 bukan rata-rata, relatif setiap tahun memang begitu,” tegasnya.

Kemudian kata dia, suhu maksimum yang meningkat dalam beberapa hari ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu pada bulan Oktober, kedudukan semu gerak matahari adalah tepat di atas Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dalam perjalannya menuju posisi 23 lintang selatan setelah meninggalkan ekuator.

Posisi semu matahari di atas Pulau Jawa akan terjadi 2 kali yaitu di bulan September, Oktober dan Februari serta Maret, sehingga puncak suhu maksimum terasa di wilayah Jawa hingga NTT terjadi di seputar bulan-bulan tersebut.

Cuaca cerah juga menyebabkan penyinaran langsung sinar matahari ke permukaan lebih optimal sehingga terjadi pemanasan suhu permukaan. Kondisi tersebut berkaitan dengan adanya Siklon Tropis Kompasu di Laut Cina Selatan bagian Utara yang menarik masa udara dan pertumbuhan awan-awan hujan serta menjauhi wilayah Indonesia sehingga cuaca di wilayah Jawa cenderung menjadi lebih cerah – berawan dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya meskipun cuaca di Kotawaringin Barat panas, namun saat ini justru sudah masuk musim penghujan dan Kobar wilayah selatan puncak musim hujan pada Desember, sementara Kobar bagian utara puncak musim hujan pada Maret tahun depan. Untuk itu, mengingat puncak musim penghujan di bulan Desember harus selalu waspada banjir yang mengintai dan bencana ikutan lainnya. “Pancaroba atau peralihan musim sudah lewat karena di wilayah kita sudah memasuki musim hujan sejak September 2021 dasarian ke II lalu,” pungkasnya. (tyo/sla)


BACA JUGA

Senin, 07 September 2015 22:26

Excavator Sudah Diincar

<p><strong>SAMPIT &ndash;</strong> Aparat kepolisian berhasil meringkus komplotan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers