SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | BARITO | GUMAS | DPRD SERUYAN

METROPOLIS

Kamis, 08 Oktober 2015 22:35
Bencana Asap
Berbulan-bulan Dipaksa Hirup Asap, Nyaris Lupa Hangatnya Matahari
Kabut asap yang menyelimuti Sampit berdampak terhadap warga, terutama anak-anak dan remaja.

SAMPIT – Dua bulan lebih masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tak merasakan lagi hangat dan panasnya sinar matahari. Pekatnya asap membuat matahari tak bisa menembus bumi dengan sempurna. Warga juga dipaksa menghirup udara berbahaya yang mengganggu kesehatan.

”Saya hampir lupa bagaimana hangatnya sinar matahari. Hampir dua bulan ini rasanya suasana kota seolah suram,” kata Andri, mahasiswa perguruan tinggi di Kotim, Rabu (7/10).

Hal yang sama dirasakan Zeni (20), mahasiswi Universitas Darwan Ali (Unda) Sampit. Dia harus berangkat dan pulang kuliah di tengah kabut asap. Akibatnya, kesehatannya terganggu. Tidak hanya batuk dan pilek, matanya juga perih, sehingga membuat konsentrasi belajarnya berkurang.

Meski sudah lama tinggal di Sampit, kabut asap memang bukan sesuatu yang baru, karena hampir terjadi setiap tahun. Namun, menurutnya, kabut asap tahun ini lebih parah dibanding sebelumnya. ”Dulu setahu saya sekolah tidak pernah libur biar kabut asap, tetapi tahun ini harus diliburkan karena kabut asap parah banget,” katanya.

Rizal (17), siswa SMKN 1 Sampit menuturkan, biasanya dia senang menyambut liburan sekolah, namun kali ini sebaliknya. Dia tidak leluasa keluar rumah dan bermain sepak bola, olahraga kegemarannya karena kabut asap membatasi ruang geraknya.

”Teman-teman sekolah juga banyak batuk dan pilek gara-gara kabut asap. Mau jalan juga malas dan tidak leluasa, karena jalan tertutup kabut,” ucapnya.

Rizal berharap musibah kabut asap berakhir, sehingga dia dapat beraktivitas bebas seperti sebelumnya. Dia meminta pemerintah bertindak tegas menangkap dan memberikan sanksi pelaku pembakaran lahan. Pasalnya, kebakaran lahan yang  dilakukan memang ada unsur kesengajaan dan kebiasaan memasuki musim kemarau, bukan dikarenakan faktor alam.

”Kabut asap ini musibah yang bisa dicegah, tetapi orang yang tidak bertanggung jawab sengaja membakar lahan dan semua orang terkena imbasnya. Harusnya pelakunya ditangkap dan dipenjara saja,” tegasnya.

Dampak kemarau dan bencana kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap juga dirasakan pengusaha ikan asin, Gabau. Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit ini mengaku, ikan yang mereka jemur tak bisa segera kering. Biasanya pengeringan hanya dalam hitungan hari, kini memerlukan waktu berminggu-minggu.

Tak hanya pengusaha ikan asin, kurangnya terpaan sinar matahari juga dirasa cukup menganggu ibu rumah tangga. Jemuran pakaian mereka juga tak bisa kering dengan cepat. ”Kalau cuaca seperti ini susah. Pikir dua kali kalau mau cuci pakaian banyak-banyak,” kata Sandra, warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Warga hanya bisa berharap hujan segera turun dan kabut asap segera berakhir, sehingga aktivitas mereka bisa kembali seperti sedia kala. Beberapa hari belakangan, cuaca di Kota Sampit cukup membaik dari hari-hari sebelumnya. Data badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Bandara H Asan Sampit, jarak pandang  pagi hari memang masih 300 meter. Namun hingga siang hari berangsur-angsur membaik sampai 4.000 meter.

Penerbangan Masih Tutup

Meski jarak pandang membaik, penerbangan dari dan ke Kotim masih belum bisa beroperasi. Maskapai penerbangan Kalstar Aviation menutup sementara penerbangan untuk tanggal 6-10 Oktober.

”Beberapa hari ini cuaca mulai membaik, namun kami tidak berani. Daripada penumpang mengalami ketidakpastian dan terjadi pembatalan bagi yang telah memesan tiket,” kata Branch Manager Kalstar Aviation Sampit Novallino.

Apabila dua hari kemudian cuaca membaik, maskapai akan membuka penjualan tiket untuk penerbangan pada Senin (12/10)  nanti. Pantauan koran ini, jarak pandang di darat juga lebih baik dari beberapa hari sebelumnya.

Asap memang masih ada, tapi sudah tipis. Bahkan, Selasa (6/10), sejumlah wilayah di Kota Sampit sempat diguyur hujan gerimis dengan intesitas rendah sehingga belum bisa menghilangkan asap secara signifikan. (tha/oes/ign)

loading...

BACA JUGA


Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers