Berbagai cara warga saat memeriahkan datangnya hari raya Idulftri 1446 Hijriah. Di Sukamara ada tradisi unik masyarakat dalam menyambut datangnya hari kemenangan tersebut, yakni menggelar betawakan (lempar) air di sungai Jelai. Tradisi itu dilakukan selama tiga hari berturut-turut dan menjadi tontotan warga.
FAUZIANNUR, Sukamara
Sore hari sekira pukul 4 sore setelah Ashar di hari lebaran, bibir sungai Jelai ramai dikunjungi warga. Mereka ingin melihat keseruan perang air di tengah sungai. Anak-anak dan para remaja nampak bersiap ikut dalam saling lempar air tersebut. Masing-masing kelompok mempersiapkan air yang dibungkus dengan plastik transparan.
Sebagian mereka ada yang melempar dari bibir sungai, sebagian lagi hilir mudik menggunakan perahu mesin kecil atau kelotok dan speedboat. Setiap lewat, kelompok yang berada di bibir sungai langsung melempar dengan kantung air, begitupun mereka yang di atas kelotok langsung membalas. Gelak tawa dan sorak sorai seketika terdengar jika kantung air mengenai sasaran.
Kegiatan ini tentu sebagai ungkapan kegembiraan dan sekaligus ajang silaturahmi warga. Meski saling lempar, tak ada saling emosi dan caci maki. Mereka terlihat bergembira sembari hilir mudik menggunakan kelotok (perahu mesin kecil).
“Cukup menghibur melihat mereka saling lempar. Lucu dan seru menontonnya,” kata Agus, salah seorang warga.
Apa pun tradisi yang masih ada sekarang kiranya patut dipertahankan dan dilestarikan sehingga menjadi ciri khas Kota Sukamara. Siapa berperan, tentunya masyarakat sendiri dan pemerintah daerah. Tanpa adanya dukungan dari pemerintah daerah, pasti tradisi terkubur oleh zaman.
Bupati dan Forkopimda Saksikan Tradisi Betawakan
Bupati Sukamara Masduki yang turut menyaksikan langsung kegiatan bersama unsur Forkopimda menegaskan bahwa tradisi betawakan selain untuk melestarikan tradisi, juga menjadi sarana hiburan tersendiri bagi semua lapisan masyarakat. Dengan adanya tradisi betawakan di Sungai Jelai juga dapat membangkitkan perekonomian masyarakat melalui pedagang UMKM yang menyediakan berbagai aneka kuliner bagi penonton.
"Semoga setiap tahun kegiatan semakin meriah dan lebih meningkat lagi karena tradisi ini harus dilestarikan bersama," ujar Masduki.
Selain berupaya lebih menghidupkan lagi kegiatan betawakan, pemerintah daerah juga berharap agar semua elemen masyarakat tetap menjaga kebersihan bantaran sungai yakni dengan tidak membuang sampah dengan sembarangan.
"Selesai kegiatan tentu ada dampak yang ditimbulkan seperti sampah plastik dan lainnya, maka diharapkan dinas terkait langsung bergerak untuk menanggulangi sampah dan masyarakat juga agar ikut berpartisipasi menjaga kebersihan lingkungan," tukas Masduki. (*/fm)