SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | BARITO | GUMAS | DPRD SERUYAN

PANGKALANBUN

Selasa, 28 Mei 2019 13:58
Semaraknya..!!! Warisan Budaya Masyarakat Bantaran Sungai Arut

Festival Kriang Kriut Pangkalan Bun

MERIAH : Suasana temaram di kawasan bantaran Sungai Arut saat pelaksanaan Festival Keriang Keriut, Minggu (26/5) malam.(YOHANES ARDIAN /RADAR PANGKALAN BUN)

PANGKALANBUN – Suasana temaram dan alunan musik tradisional membahana di sepanjang bantaran sungai Arut Selatan, Minggu (26/5) malam. Ratusan anak-anak tampak antusias menunggu pembukaan Festival Kriang Kriut sambil bergembira menikmati langit bertabur bintang di malam itu.

Festival Kriang Kriut akan berlangsung selama lima hari, mulai tanggal 26 - 30 Mei 2019 yang diikuti oleh 30 RT dari lima kelurahan di sepanjang sungai legendaris di Pangkalan Bun itu. Kelurahan itu meliputi Mendawai, Mendawai Seberang, Raja, Raja Seberang, dan Kelurahan Baru.

Kemeriahan itu dipusatkan di kawasan Water Front City, Kampung Sega, RT 01 Kelurahan Mendawai, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Muhamad Zulhadi, Lurah Mendawai mengatakan bahwa Kriang Kriut merupakan salah satu tradisi masyarakat untuk menyambut kegembiraan malam nuzulul Quran dan juga malam Lailatul Qadar. “Kriang kriut ini merupakan lampu penerangan menggunakan api. Sebelum adanya listrik, biasanya digunakan masyarakat untuk penerangan warga yang ke masjid atau surau,” jelas Zulhadi.

Awalnya, lanjut Zulhadi, lampu Kriang Kriut digunakan orang-orang untuk ke masjid sebagai penerangan karena saat itu belum ada listrik. Lampu Keriang Keriut yang asli berbahan baku tempurung kelapa yang sudah dibelah. “Tempurung kelapa muda digunakan agar tidak terbakar api dinyalakan di sumbunya. Bahan bakar lampu tersebut menggunakan damar, patung, dan jelutung,” terangnya.

Ia juga menyebut bahwa pada awalnya, setelah sekian lama tidak dilaksanakan, Festival Keriang Keriut ini kembali diadakan di Kelurahan Mendawai pada tahun 2018 lalu.

“Alhamdulilah untuk festival yang kedua ini disambut baik oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, jadi langsung diambil alih oleh mereka dan wilayah pelaksanaanya juga bertambah,” ungkap Zulhadi.

Zulhadi, berharap ke depan festival ini semakin meriah dan acara itu tidak hanya di bantaran sungai, namun dapat menjangkau ke area yang lebih luas. “Siapa tahu kita bisa mematikan listrik selama beberapa jam, jadi kita bisa hemat energi,” pungkasnya. (ard/sla)


BACA JUGA

Selasa, 08 September 2015 21:10

57 Jamaah Calon Haji Diberangkatkan

<p>PANGKALAN BUN- Sebanyak 57 orang Jamaah Calon Haji (JCH) asal Kabupaten Kotawaringin Barat…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers