MANAGED BY:
RABU
20 SEPTEMBER
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | ARTIKEL | KOLOM | EVENT

KOLOM

Minggu, 10 September 2017 00:16
Melihat Titik Lahir Rohingya
Pengungsi Rohingya. (MUNIR UZ ZAMAN/AFP PHOTO)

PROKAL.CO, Oleh: Ardian Wiwaha)*

Banyak versi yang menceritakan titik lahir kehidupan atau asal mula sejarah masyarakat Rohingya di Myanmar. Rohingya merupakan sebuah kelompok etnis Indo-Aryadari Rakhine atau yang juga dikenal sebagai Arakanatau Rohang dalam bahasa Rohingya di Burma. Rohingya adalah etno-linguistik yang berhubungan dengan bahasa bangsa Indo-Arya di India dan Bangladesh (yang berlawanan dengan mayoritas rakyat Burma yang Sino-Tibet).

Menurut penuturan warga Rohingya dan beberapa ulama, mereka berasal dari negara bagian Rakhine, sedangkan beberapa sejarawan lain mengklaim bahwa mereka merupakan penduduk yang berasal dari Bengal lalu bermigrasi ke Myanmar,terutama perpindahan yang berlangsung selama masa pemerintahan Inggris di Burma. Pada batas tertentu, perpindahan tersebut terjadi setelah kemerdekaan Burma pada tahun 1948 dan selama periode Perang Kemerdekaan Bangladesh pada tahun 1971.

Muslim dilaporkan telah menetap di negara bagian Rakhine (juga dikenal sebagai Arakan) sejak abad ke-16, meskipun jumlah pemukim Muslim sebelum pemerintahan Inggris tidak tidak diketahui dengan pasti. Setelah Perang Anglo-Burma Pertama tahun 1826, Inggris menganeksasi Arakan dan pemerintah pendudukan mendorong terjadinya migrasi pekerja dari Bengal datang kesana untuk bekerja sebagai buruh tani.

Diperkirakan terdapat lima persen dari populasi Muslim yang mendiami Arakan pada tahun 1869, meskipun perkiraan untuk tahun sebelumnya memberikan angka yang lebih tinggi. Inggris melakukan beberapa kali sensus penduduk antara tahun 1872 dan 1911 yang hasilnya mencatat peningkatan jumlah populasi Muslim dari 58.255 ke 178.647 di Distrik Akyab.

Selama Perang Dunia II, pada tahun 1942 terjadi peristiwa pembantaian Arakan, dalam peristiwa ini pecah kekerasan komunal antara rekrutan milisi bersenjata Inggris dari Angkatan Ke-V Rohingya yang berseteru dengan orang-orang Budha Rakhine. Peristiwa berdarah ini menjadikan etnis-etnis yang mendiami daerah menjadi semakin terpolarisasi oleh konflik dan perbedaan keyakinan. Pada tahun 1982, pemerintah Jenderal Ne Win memberlakukan hukum kewarganegaraan di Burma, yang mana dalam Undang-undang tersebut berisikan tetang status penolakan terhadap status kewarganegaraan etnis Rohingya.

Sejak tahun 1990-an, penggunaan istilah "Orang-orang Rohingya" telah meningkat dalam penggunaan di kalangan masyarakat untuk merujuk penyebutan etnis Rohingya. Pada tahun 2013, sekitar 1,3 juta orang Rohingya menetap di Myanmar. Secara mayoritas mereka mendiami kota-kota Rakhine utara, di mana mereka membentuk 80-98% dari populasi penduduk.

Menelaah hasil pemberitaan dan investigasi media internasional dan organisasi hak asasi manusia menggambarkan kehidupan etnis Rohingya sebagai salah satu etnis minoritas yang paling teraniaya di dunia. Menghindari kekerasan di daerahnya banyak di antara orang-orang Rohingya yang melarikan diri ke pemukiman-pemukiman kumuh dan kamp-kamp pengungsi di negara tetangga Bangladesh, serta sejumlah besar orang Rohingya juga bermukim didaerah sepanjang perbatasan dengan Thailand. Sementara itu, lebih dari 100.000 Rohingya di Myanmar terus hidup di kamp-kamp untuk pengungsi internal dan mereka dilarang meninggalkan kamp-kamp pengungsian oleh otoritas setempat.

Rohingya telah menuai perhatian internasional setelah kerusuhan negara bagian Rakhine pada tahun 2012. Lalu pada tahun 2015 ketika berlangsungnya perhatian internasional atas Krisis Pengungsi Rohingyadimana orang-orang Rohingya menempuh perjalanan laut yang berbahaya dalam upaya melarikan diri ke beberapa negara Asia Tenggara, dimana Malaysia menjadi tujuan utama mereka. Kini, perhatian tersebut semakin menguat, tatkala isu agama menyulut pertumpahan darah di Rakhine. (Dikutip: dari berbagai sumber). )*Mahasiswa Pasca SarjanaFakultas Ilmu Politik Universitas Gajah Mada


BACA JUGA

Sabtu, 16 September 2017 23:32

Bisnis di Balik Konflik Rohingya

Oleh: Jefry Untung )* Beberapa waktu belakangan ini tentu konflik Rohingya menjadi Headline news di…

Kamis, 31 Agustus 2017 14:11

Berbuat Bersama untuk Kemajuan Indonesia

Oleh: Faisal Najamudin  S.I.P Pada Senin 20 Oktober 2014, pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla…

Minggu, 27 Agustus 2017 21:53

Media Massa Berperan Sebarkan Kebhinekaan

Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Indonesia bersama DPP Peradah Indonesia Provinsi…

Rabu, 16 Agustus 2017 11:58

Wartawan Perbatasan Harus Berani Sampaikan Fakta

Wartawan yang bertugas meliput peristiwa di perbatasan, harus berani menyampaikan fakta. Meskipun konsekuensinya…

Minggu, 30 Juli 2017 01:01

Radikalisasi Dunia Maya

Oleh: Arjuna Wijaya )* Dewasa ini, hampir disemua kalangan umur anak remaja Indonesia merupakan sebuah…

Minggu, 30 Juli 2017 00:56

Internet untuk Propaganda Teroris

Oleh: Ardian Wiwaha )* Masih lemahnya upaya kontrol dan pengawasan secara masif dan komprehensif dari…

Minggu, 16 Juli 2017 14:43

Mengenal Situs Radikal

Oleh: Ananda Putra Pratama )* Kontroversi acapkali muncul ketika pemerintah melalu instansi resminya…

Minggu, 16 Juli 2017 14:42

Filosofi Pancasila

Oleh: Ricky Rinaldi)* Pancasila sebagai dasar filsafat negara serta filsafat hidup bangsa Indonesia,…

Minggu, 16 Juli 2017 14:40

Deradikalisasi Dunia Maya

Oleh: Ardian Wiwaha )* Harus diakui bahwa deradikalisasi dunia maya atau yang dikenal dengan online…

Senin, 10 Juli 2017 09:40

Duh..Penataan Kota Sampit Mulai Rumit

SAMPIT-Wakil Ketua DPRD Kotim Parimus  menilai, untuk menata kawasan perkotaan Sampit saat ini,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .