PANGKALAN BUN- Beberapa hari terakhir buaya meneror warga bantaran Sungai Arut Pangkalan Bun. Beragam pendapat dilontarkan masyarakat. Ada yang mengatakan buaya tersebut muncul karena habitat asli terganggu, ada pula yang menyampaikan pendapat yang berbau mistis.
Keberadaan buaya ini juga menarik perhatian Bupati Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Bambang Purwanto. Bambang bersama Kepala Satuan Polisi Perairan (Satpol Air) Polres Kobar AKP Wawan Ariananda dan Polhut Team Rescue BKSDA SKW II Pangkalan Bun Muda Yulivan pun menyambangi kediaman Busu Thamrin A.S (78) di Jalan Pangeran Antasari, Gang Rajawali, RT.03, Kelurahan Raja, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kobar, Kamis (20/10). Mereka berkonsultasi mengenai munculnya buaya di Sungai Arut beberapa hari terakhir ini.
Perilaku buaya ini cukup tenang meski ada aktivitas getek dan ditonton ratusan warga. Berbeda seperti buaya liar yang begitu mendengar suara getek langsung kabur. Menurut Thamrin, buaya tersebut ada yang memeliharanya. Kerena pemilik buaya sudah meninggal dunia, saat ini dipelihara oleh anaknya.
"Setiap ada hajatan pasti muncul, diberi makan khusus. Yang pasti, yang bisa mengontrolnya hanya orang yang memeliharanya," terang kakek yang tak mau disebut pawang buaya ini, Kamis (20/10).
Menurutnya, Buaya tersebut diberikan makanan khusus, seperti telur, sirih, bekapur, rokok, kemiri, dan nasi sekepal. "Kalau tidak diberi, pasti ada yang dirasukinya (kesurupan). Buaya di Sungai Arut ini sangat banyak, tidak terhitung jumlahnya. Rata-rata orang Sulung yang memelihara," ungkapnya.
Thamrin menerangkan, buaya peliharaan berbeda dengan buaya liar. Buaya liar sendiri tidak berani memasuki kawasan Sungai Arut yang ada permukiman penduduk karena sudah dijaga oleh buaya peliharaan. Buaya peliharaan juga tidak menggigit manusia. Saat pemiliknya meninggal, maka kepemilikan menurun ke anaknya.
"Kalau diganggu satu ekor saja, maka akan ada sepuluh buaya (kelompok) yang akan datang. Jangan ditembak atau disakiti," tandasnya.
Selain itu, Thamrin meminta Bupati Kobar Bambang Purwanto tidak menangkap buaya tersebut. Saat ini Thamrin sedang berusaha untuk memindahkan buaya tersebut ke tempat lain. "Saya pesankan dengan (buaya) punya saya supaya buaya itu dipindahkan ke tempat lain. Saya perlu waktu tiga hari untuk memindahkan buaya itu," beber Thamrin.
Sementara itu Bupati Kobar Bambang Purwanto setuju menunggu selama tiga hari ini, sesuai apa yang telah diminta oleh Busu Thamrin. Apabila masih muncul di Sungai Arut, maka ia meminta Polres Kobar dan BKSDA SKW II Pangkalan Bun untuk mengevakuasi ke habitat yang jauh dari pemukiman warga.
"Kami minta kepada Polres dan BKSDA sementara ini untuk menghimbau masyarakat bantaran Sungai Arut agar tidak berenang di sungai supaya tidak ada hal yang tidak kita inginkan," tegas Bambang.
Bambang melanjutkan, Busu Thamrin akan melakukan ritual selama tiga hari ini supaya buaya tersebut menjauh dari permukiman Sungai Arut Pangkalan Bun.
"Tapi kalau muncul lagi, apa boleh buat, kita akan amankan," kata Bambang.
Semenjak kemunculan buaya di permukiman bantaran Sungai Arut, aktivitas di sungai tampak sepi. Hampir tidak ada warga yang mandi atau berenang di sungai. Getek penyeberangan juga sepi.
Kasatpolair Polres Kobar AKP Wawan Ariananda setiap pukul 06.30 WIB pagi berkeliling di bantaran Sungai Arut Pangkalan Bun untuk mengimbau kepada masyarakat bantaran tidak mandi dan berenang di sungai.
Sementara itu Polhut Team Rescue BKSDA SKW II Pangkalan Bun Muda Yulivan telah mempersiapkan perangkap buaya dengan teknik dipancing menggunakan umpan. Setelah moncong buaya terikat, petugas akan menggiringnya ke darat.
"Nanti kalau misalnya lewat tiga hari masih ada, terpaksa kita amankan, akan kita translokasi ke SM Lamandau dan kalau tidak memungkinkan kita pindahkan ke Bukit Tengkiling di Palangka Raya," pungkas Yulivan. (jok/yit)