MANAGED BY:
SELASA
18 FEBRUARI
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | BARITO | KOLOM | EVENT

METROPOLIS

Selasa, 21 Maret 2017 14:01
Gara-Gara Disembah Orang Gila, Dua Singa Dipindah Warga

Ikon Jalan Kopi

DUA SINGA: Salah satu patung singa yang mulanya menjadi ikon Jalan Kopi, kini ditempatkan di Taman Kota Sampit.(USAY NOR RAHMAD/ RADAR SAMPIT)

PROKAL.CO, JALAN Kopi, Sampit, di muaranya, dulu terdapat dua patung singa . Kini dua patung itu direlokasi ke taman kota.‎ Tak banyak yang tahu mengapa ikon yang membuat  kawasan tersebut terkenal itu, dipindahkan.

‎USAY NOR RAHMAD, Sampit

Media sosial viral soal patung macan “humanis". Bentuknya yang berbeda dari macan pada umumnya membuat sebagian orang menganggapnya lucu. Koramil 1123 Cisewu , Jawa Barat pun menggantinya dengan patung yang baru. Ini banyak disayangkan para peselancar dunia maya. Sebagian mereka menilai justru patung macan itu sangat khas dan ikonik.

Nah, di Sampit beberapa tahun silam pun begitu. Ada sebuah kawasan, kini diberi nama Jalan Kopi, memiliki ikon khas, yaitu dua patung singa di muaranya. Keduanya diletakkan terpisah di sisi kanan dan kiri jalan.

”Dulu belum banyak kendaraan. Kalau ke pasar cuma naik becak. Nah kalau minta antar, biasa bilang ' tolong antarkan ke jalan dua singa' pasti tukang becaknya tahu,” kenang Hari Panca, warga Jalan Kopi.

‎Diakuinya, sebelum dia lahir patung itu sudah ada.‎ Dua ekor singa imut menggenggam bola itu pun begitu akrab dengan Jalan Kopi. Sehingga warga sekitar begitu menjaga. 

Patung singa itu sudah ada sekitar tahun 1980-an. Mulanya,  ingin dijadikan hiasan rumah oleh seorang warga bernama Koheri. Namun urung, karena anaknya sering menangis. Patung yang dibuat oleh seniman Jawa itu pun diputuskan untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir. Mendengar itu, tetangga Koheri, Soewarso (alm) menyarankan diletakkan di muara jalan untuk hiasan.

”Saya ingat betul, dua patung singa sudah menjadi ikon kawasan ini. Setiap menjelang memperingati kemerdekaan selalu kami cat ulang,” jelas Basuki, anak Soewarso (alm) ditemui di kediamannya di Jalan Kopi.

Babas, sapaan akrabnya, pun mengakui dengan adanya patung itu membuat Jalan Kopi mudah dicari dan menjadi patokan, saat melintas Jalan Patih Rumbih (kini Jalan MT Haryono). Terutama bagi pendatang baru yang mencari alamat. Namun, pada suatu hari warga terkejut, ”patung penerima tamu” itu raib dari posisinya.

”Sekitar tahun 2009, patung itu dipindahkan ke taman kota. Entah siapa yang memindahkannya,” kata Babas.

‎Sementara itu, Komandan Satuan Polisi Pamong Praja Kotawaringin Timur, Rihel, mengaku tak tahu asal-muasal pemindahan patung itu.

”Kurang tahu, saat itu saya belum bertugas. Mungkin yang memindahkannya pun sudah tidak ada,” ujar Rihel.

Usut punya usut, ternyata ada sejumlah warga yang keberatan dengan keberadaan patung itu. Pasalnya, kerap kali ada seorang penderita gangguan mental yang sering singgah di patung itu. Dan menyembah patung. Alhasil, muncul kekhawatiran dijadikan wahana kemusyirikan oleh warga.

”Pernah ada orang gila, menaruh makannya di situ. Lalu nyembah-nyembah patung, sebelum makan. Mungkin karena itulah muncul keresahan dan akhirnya dipindahkan,” ungkap Babas.

Kini kedua patung beton berbobot puluhan kilogram itu diletakkan di Taman Kota Sampit. Menemani patung buaya dan rusa. Bentuknya pun sudah tak utuh lagi. Rusak termakan usia.

”Saya berkeinginan untuk membawanya kembali. Kalau pun tidak boleh ditaruh di depan muara jalan, saya akan taruh di halaman rumah. Insya Allah tidak akan syirik, sekadar pengingat sejarah saja. Bercerita untuk anak cucu,” tutup Babas.(***)


BACA JUGA

Rabu, 09 September 2015 00:45

Uji Kebohongan, Tim Hukum Ujang Dukung Uji Forensik

<p>&nbsp;PALANGKA RAYA - Tim Kuasa Hukum Ujang-Jawawi menyatakan penetapan hasil musyawarah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers