MANAGED BY:
RABU
02 DESEMBER
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | BARITO | KOLOM | EVENT
Jumat, 13 Oktober 2017 12:08
Bayang-Bayang Narkoba dalam Bonus Demografi Indonesia
Ilustrasi. (net)

PROKAL.CO,

Oleh: Dodik Prasetyo )*

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini Narkoba dan obat terlarang masih banyak tersebar di Indonesia. Contohnya adalah penyalahgunaan obat jenis Paracetamol Caffeine Carisoprodol (PCC)yang tersebar luas di wilayah Sulawesi Tenggarayang hangat terjadi beberapa waktu lalu. Korban dari penyalahgunaan narkoba dan obat terlarang tidak sedikit yang masuk dalam usia produktif dan remaja. Oleh karena itu,kedepannya narkoba akan menjadi ancaman yang serius,terkhusus bagi kondisi bonus demografi yang diramalkan akan dialami oleh Indonesia beberapa tahun kedepan.

Tahun 2020 sampai dengan 2030, Indonesia akan memasuki masa bonus demografi. Pada rentan waktu tersebut, diperkirakan penduduk usia produktif Indonesia akan mencapai 70 persen dari jumlah penduduk. Bonus demografi adalah suatu kondisi dimana jumlah penduduk produktif atau angkatan kerja (usia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk yang tidak produktif (dibawah 5 tahun dan diatas 64 tahun). Artinya, jika dikelola secara baik,bonus demografi akan menjadi kuntungan Indonesia karena pasar kerja akan didominasi penduduk usia produktif.

Akan tetapi, ancaman juga datang beriringan dengan masa bonus demograsi ini. Khususnya adalah ancaman penyalahgunaan narkoba dan obat terlarang. Penelitian mengungkapkan bahwa pada tahun 2017 pelaku penyalahgunaan narkoba rata-rata adalah usia 25-30 tahun. Sementara itu untuk usia pelajar dan mahasiswa juga tidak kalah sedikit, yakni sekitar 20 persen.

Berkaca pada kejadian yang masih hangat, yakni penyalahgunaan PCC, mayoritas korban dari penyalahgunaan obat terlarang tersebut juga merupakan penduduk usia remaja. Tentunya fakta tersebut menggambarkan bahwa ancaman narkoba terhadap penduduk usia produktif begitu besar.

Ancaman dari narkona bersifat jangka panjang.Narkoba akan membahayakan keberlangsungan hidup bangsa ini di kemudian hari. Narkoba dapat mejadikan pemuda yang diharapkan dapat menjadi generasi penerus bangsa tidak dapat berpikir jernih karena digerogoti oleh zat-zat adiktif penghancur syaraf. Akibatnya, bonus demografi akan berbalik menjadi petaka besar karena banyaknya pemuda yang akan menjadi pengisi lini strategis rusak pikirannya akibat narkoba.

Halaman:

BACA JUGA

Kamis, 10 September 2015 22:47

Rudini Ditenggat 60 Hari

<p><strong>SAMPIT </strong>&ndash; Calon bupati Kotim Muhammad Rudini harus menyerahkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers