MANAGED BY:
RABU
03 JUNI
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | BARITO | KOLOM | EVENT

PANGKALANBUN

Senin, 09 Maret 2020 17:05
Setelah Tambang Hilang, Siap Kembangkan Kopi

Melihat Aktivitas Warga Desa Penyombaan di Kobar

KOMODITAS BARU: Bupati Kobar Nurhidayah bersama ahli dari BBPPTP Kementerian Pertanian RI, pejabat, dan masyarakat Desa Penyombaan saat tanam kopi perdana, Sabtu (7/3).(RINDUWAN/RADAR SAMPIT)

PROKAL.CO, Masyarakat Desa Penyombaan, Kecamatan Arut Utara secara perlahan meninggalkan aktivitas menambang emas. Mereka kini memilih mengurus kebun dan mencoba mengembangkan kopi di wilayahnya. 

RINDUWAN, Pangkalan Bun

Perlu waktu sekitar empat jam perjalanan darat untuk sampai ke Desa Penyombaan, Kecamatan Arut Utara, dari Kota Pangkalan Bun. Perjalanan ke desa itu tak sepenuhnya mulus. Sebagian jalan masih rusak dan berlumpur.

Perjalanan melelahkan tersebut terbayar ketika tiba di desa yang masih asri dengan banyak pepohonan tinggi. Jalan di tengah permukiman juga masih tanah latrit. Meski di pedalaman, rumah warga berjajar rapi dan bersih.

Sampai di tujuan, rombongan langsung berpencar. Sebagian ada yang memilih ke warung mencari kopi dan gorengan. Sebagian ada yang ke rumah warga untuk sekadar menumpang buang air kecil. 

 Warga Desa Penyombaan sebagian berprofesi sebagai penambang emas. Namun, belakangan ini banyak yang beralih mengurus kebun. Hanya sebagian kecil saja yang masih setia dengan profesi lama itu.

”Dulu hampir semua warga Desa Penyombaan ini menambang emas. Kebun hanya sebagai sampingan saja," kata Safrudin Jufri, salah satu warga setempat mengawali perbincangan. 

Pria paruh baya tersebut menceritakan pengalamannya menambang emas. Hampir 24 tahun dirinya menjalani profesi sebagai penambang. Sejak bujang hingga mempunyai cucu.

”Saya mulai menambang emas saat masih bujang. Dulu di sana-sini orang menambang dan hasil yang didapat cukup banyak. Jadi, warga desa tidak berpikir untuk mencari pekerjaan lain,” ujarnya.

Modal yang dikeluarkan hanya membeli mesin dan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Biasanya dia membeli per satu drum. Minyak tersebut bisa dipakai hampir dua minggu.

”Minyak satu drum itu bisa dapat emas paling minim 50 gram. Tapi, biasanya lebih dari itu. Tinggal kalikan saja harga emasnya berapa. Hasilnya lumayan besar dibanding harus kerja sawit,” ucapnya penuh semangat.

Namun, setelah bertahan-tahun, lokasi tambang makin menyempit, sementara penambang emas semakin banyak. Pasalnya, selain warga Penyombaan, ada juga warga pendatang. Termasuk warga negara asing yang membeli tanah, kemudian ditambang dan dicari emasnya. 

”Sehingga lahan mencari emas sangat sulit. Termasuk warga yang kesulitan menambang di darat, juga menambang di sungai. Karena saking sulitnya mencari lahan tambang emas,” jelasnya. 

Hingga 2017, dia akhirnya memutuskan berhenti menambang emas secara mandiri dan memilih bekerja ikut investor pertambangan emas. ”Kalau yang punya modal besar. Mereka menggunakan alat berat untuk mengeruk tanah yang mengandung emas. Cara itu lebih mudah dibandingkan warga yang menambang secara manual,” ujarnya.

Sampai akhirnya dia benar-benar berhenti dari aktivitas tambang. Pasalnya, bekerja tambang memerlukan tenaga ekstra, sementara usianya yang menginjak kepala lima tak sanggup lagi bekerja berat. 

”Saya memutuskan bekerja yang lebih ringan, seperti menanam sawit. Tapi, belakangan harga sawit turun yang membuat kami drop,” ujarnya. 

Dirinya sempat berpikir, setelah berhenti menambang, beralih membudiyakan ikan keramba. Namun, lagi-lagi usahanya gagal karena pakan ikan yang terlalu mahal. Usaha ikan keramba hanya satu kali panen saja. Antara pengeluaran dan pemasukan tidak sebanding. 

Ketika pemerintah masuk dan membuat program penanaman kebun kopi di Desa Penyombaan, Safrudin dan warga lainnya awalnya tak terlalu menggubris program tersebut, karena dia kurang mengetahui cara budidaya dan pangsa pasar kopi.

Namun, setelah ikut beberapa kali pertemuan, dia mulai tertarik ikut mengembangkan kopi di Desa Penyombaan. 

”Kami sangat tertarik soal kopi robusta, karena pemerintah bakal membantu bibit, serta pengurusan kebun kopi . Nampaknya ini cocok bagi kami yang usianya sudah tua,” ujarnya. 

Saat ini dia memiliki lahan lima hektare yang akan ditanami kopi robusta. ”Pangsa pasar kopi sudah jelas. Penikmat kopi juga banyak, sehingga kami beralih menanam kopi karena lebih menjanjikan,” bebernya. 

Hal serupa diungkapkan Kasropi Ansori. Ketua BPD Desa Penyombaan ini mengatakan, rencana pengembangan kopi di Desa Penyombaan disambut baik warganya. Mereka mulai menyiapkan lahan untuk ditanami kopi. 

”Warga sangat antusias menanam kopi, karena menambang tidak lagi menghasilkan. Tinggal beberapa orang saja yang masih nambang emas,” sebutnya. 

Dia berharap program tersebut bisa berjalan lancar. Karena baru di Kecamatan Arut Utara, khususnya Desa Penyombaan yang menjadi lokasi khusus pengembangan kopi robusta.

Kepala Desa Penyombaan Murni mengatakan, jumlah penduduk desanya hanya sekitar 143 kepala keluarga dengan jumlah 443 jiwa. ”Mayoritas masyarakat Desa Penyombaan setelah berhenti menambang emas, berkebun sawit dan karet. Kemudian mereka juga banyak yang menyiapkan lahan kosong untuk ditanam kopi," kata Murni. 

Menurutnya, lahan di desanya masih luas. Potensi yang bisa digunakan untuk pengembangan kopi mencapai 150 hektare. Tentunya lahan tersebut ke depan bakal digarap secara benar, sehingga tidak hanya sekadar keinginan mempunyai kebun. 

”Kami berharap ke depan ada pendampingan agar masyarakat desa ini benar-benar tahu menghasilkan kopi terbaik. Karena kopi terbaik perlu perhatian dan ketelatenan,” jelasnya. 

 

Tanam Perdana

Penanaman bibit kopi perdana dilakukan Bupati Kobar Nurhidayah di Bukit Durian Belobu, Desa Penyombaan, Sabtu (7/3) pagi. Ribuan bibit kopi ditanam bersama unsur pemerintah dan masyarakat Desa Penyombaan. 

”Hari ini (kemarin) kami menanam perdana bibit kopi di Desa Penyombaan. Kami melihat desa itu sangat cocok untuk pengembangan kopi jenis robusta, karena daerahnya tidak terlalu tinggi,” kata Nurhidayah. 

Menurutnya, jenis robusta ini pangsa pasarnya masih sangat luas, sehingga akan cocok dikembangkan di Arut Utara sebagai penyeimbang antara sawit dan karet yang harganya tak stabil. 

”Kami memberikan pilihan kepada masyarakat, bahwa daerah kita itu bagus untuk tanaman kopi. Kebetulan di Penyombaan masih banyak lahan kosong, sehingga bisa jadi satu hamparan untuk ditanami kopi,” ujarnya. 

”Kami pilih Kecamatan Aruta untuk pengembangan kopi. Sekaligus branding Aruta sebagai penghasil kopi robusta terbaik nantinya,” tambahnya. 

 Di Kecamatan Arut Utara ini sudah ada lima desa yang siap ikut mengembangkan kopi robusta selain Penyombaan, yakni Desa Gandis, Kerabu, Riam, dan Panahan. 

”Jika nantinya lima desa ini benar-benar bisa menanam kopi, tentunya dalam tiga tahun ke depan Kecamatan Arut Utara bakal menjadi penghasil kopi robusta terbesar di Kalteng,” bebernya. 

Kepala Dinas TPHP Kobar Kamaludin mengatakan, bahwa untuk tahap awal ada 20 hektare lahan yang ditanam kopi robusta. Meskipun tidak semua bibit bisa ditanam. 

”Sebelum ditanam bibit, lubangnya itu harus diberi pupuk kompos, supaya tanamannya subur. Perlu waktu tiga sampai enam bulan baru bisa ditanam,” ujarnya.

”Bibit yang ditanam usianya delapan bulan. Selanjutnya dalam dua hingga dua tahun setengah, sudah bisa menghasilkan kopi. Maka ini harus terus dirawat dan dijaga,” ujarnya. 

Selain itu, kopi juga memerlukan pohon, sehingga di sela-selanya bisa ditanam pohon sengon yang rimbun. Pihaknya telah menggandeng ahli dari Balai Besar Pemenuhan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Kementerian Pertanian RI Surabaya. BBPPTP yang akan mengajari petani mulai dari menanam hingga merawat kopi, sehingga bisa menghasilkan kopi bercita rasa tinggi. 

Bayu Aji Nugroho ahli dari BBPPTP Kementerian Pertanian RI di Surabaya mengatakan, pengembangan kopi secara besar di Desa Penyombaan sangat luar biasa. ”Kami bakal melakukan MoU dengan Pemkab Kobar. Selanjutnya tugas kami adalah memberikan penyuluhan kepada petani kopi yang ada di Desa Penyombaan,” katanya. 

Pasalnya, petani kopi di desa tersebut masih sangat awam mengenai merawat tanaman Kopi. Hal yang perlu ditekankan, untuk menghasilkan kopi terbaik disiapkan dari pembibitan dan perawatan pohon kopi. 

”Maka, pola merawat kopi ini yang kami berikan kepada petani. Supaya petani kopi di Kobar bisa menghasilkan kopi kualitas ekspor,” sebutnya. (sla/ign)

 


BACA JUGA

Sabtu, 01 Februari 2020 16:02

Heboh Saling Klaim Survei, Ini Komentar Ketua PDI Perjuangan Kotim

SAMPIT – Hasil survei bakal calon kepala daerah dinilai bukan…

Sabtu, 01 Februari 2020 15:27

Desa Runtu Diteror Buaya, Satu Warga Terluka

PANGKALAN BUN – Kemunculan buaya di Kabupaten Kobar mulai merambah…

Sabtu, 01 Februari 2020 15:23

TGC Simulasikan Penanganan Suspect Virus Corona

PANGKALAN BUN - Tim Gerak Cepat (TGC) yang terdiri dari…

Sabtu, 01 Februari 2020 15:20

Masuk Kandang Ayam, Ular Piton Gegerkan Warga

PANGKALAN BUN - Regu III PHL Animal Rescue Pemadam Kebakaran…

Jumat, 31 Januari 2020 17:02

ASN Dilarang Keluyuran Saat Jam Kerja

NANGA BULIK – Satpol PP Lamandau awasi ketat para Aparatur…

Jumat, 31 Januari 2020 16:38

Nekat..!!! Sekdes Ini Jinakkan King Kobra yang Masuki Kawasan Kantornya

PANGKALAN BUN - Sekretaris Desa Rangda, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten…

Jumat, 31 Januari 2020 11:39

Angkutan Perintis Resmi Beroperasi, Pangkalan Bun – Arutara Semakin Terbuka

PANGKALAN BUN -  Masyarakat Kecamatan Arut Utara (Arutara) Kabupaten Kotawaringin…

Kamis, 30 Januari 2020 21:26

Ditinggal Kerja, Satu Rumah Di Desa Bayat Jadi Arang

NANGA BULIK- Satu rumah milik warga Desa Bayat, Kecamatan Belantikan…

Kamis, 30 Januari 2020 21:11

Data Pemilih Pilgub Kalteng Wajib Jadi Perhatian

PANGKALAN BUN -Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Barat…

Kamis, 30 Januari 2020 14:47

Pundak Ditepuk, Uang Pedagang Telur Melayang

PANGKALAN BUN - Nasib sial dialami oleh Ibu Rian (40),…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers