SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | BARITO | GUMAS | DPRD SERUYAN

SAMPIT

Rabu, 08 Mei 2024 13:17
Belasan Desa Sebagai Lokus Stunting
FORUM: Kegiatan Rembuk Stunting yang digelar di aula Bapperida Kotim, Selasa (7/5).

SAMPIT - Sebanyak 16 desa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ditetapkan sebagai lokus stunting. Desa-desa tersebut berada di wilayah Kecamatan Telaga Antang, Kotabesi, Mentaya Hulu, Baamang, Bukit Santuai, Cempaga, Cempaga Hulu, Tualan Hulu, Pulau Hanaut, Antang Kalang, Mentaya Hilir Selatan. 

"Disepakati untuk tahun 2025 sebanyak 16 desa yang ada di beberapa kecamatan di Kotim ditetapkan sebagai lokus stunting," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPPAPPKB) Kotim Imam Subekti dalam acara Rembuk Stunting di aula Bapperida Kotim, Selasa (7/5).

Desa yang ditetapkan sebagai lokus stunting tahun 2025 diantaranya Desa Tumbang Boloi, Pamalian, Kawan Batu, Tanah Mas, Tumbang Batu, Tumbang Tilap, Tukang Langit, Tumbang Tawan, Sudan, Cempaka Mulia Timur, Tumbang Mujam, Babirah, Hanaut, Tumbang Sapia, Buntut Nusa, Basirih Hulu. 

"Kita melakukan rembuk stunting dalam rangka mencarikan solusi. Jadi kalau sesuai dengan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI), kita ada kenaikan dari 27 persen menjadi 35 persen, jadi 7,6 persen kenaikannya. Bukan berarti  kita tidak melakukan penanganan stunting, jadi kita tetap bergerak, kita tetap melakukan kegiatan penanganan stunting," kata Imam. 

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018, angka prevalensi stunting di Kabupaten Kotim sebesar 48,84 persen tertinggi di Kalimantan Tengah (Kalteng) tetapi pada tahun 2022 mengacu kepada data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia angka prevalensi stunting di Kabupaten Kotim sebesar 27,9 persen dan berdasarkan hasil SKI tahun 2023 angka prevalensi stunting naik menjadi 35,5 persen. 

"Untuk program Gerebek Stunting kemarin data masih dikumpulkan jadi, kita belum bisa menganalisa gerakan kita yang di bulan Desember kemarin sampai di bulan maret ini, datanya masih dikumpulkan. Jadi beberapa kegiatan yang kemarin sudah kita lakukan nanti kita akan analisa. Tim nanti akan memberikan jawaban itu supaya nanti apa yang sudah kita lakukan ini bisa efektif atau tidak," terangnya. 

Dengan pendataan yang lebih masif, angka stunting ada kemungkinan bisa naik, bisa turun. Sebab, kasus di lapangan tidak semuanya ada di aplikasi elektronik-pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (E-PPGBM). 

"Contohnya adalah balita itu ada 10 di satu desa, tetapi yang datang ke posyandu cuma lima, berarti yang kita catat cuma lima saja, yang lima itu kita tidak tahu apakah stunting atau tidak. Kebetulan kalau lima itu kena sampel SKI, otomatis akan masuk di data SKI," terangnya. 

Pemerintah Kabupaten Kotim terus berupaya menekan angka stunting dengan melaksanakan pencegahan secara terintegrasi dengan melibatkan seluruh sektor dan sumber daya yang tersedia.

"Apabila dilihat lebih dalam, masih banyak kasus stunting baru terjadi pada usia di bawah 2 tahun yaitu saat bayi baru lahir dan pada usia 12 sampai 23 bulan," terangnya. 

Menurutnya, masa itu ditentukan oleh mutu kehamilan ASI eksklusif, makanan pendamping ASI, imunisasi lengkap, akses sanitasi dan air bersih serta deteksi dini masalah gizi dan intervensinya melalui pemantauan pertumbuhan bulanan di posyandu. 

"Pemerintah terus memperbaiki pelayanan kehamilan dan pelayanan balita melalui penyediaan USG, artropometri serta penguatan posyandu," tuturnya. 

Berdasarkan target pemerintah pusat data bayi dan balita yang terinput dalam dalam aplikasi E-PPGBM, setiap bulannya minimal 60 persen, namun rata-rata data yang masuk ke aplikasi E-PPGBM setiap bulannya pada tahun 2023 hanya sebesar 30 persen, artinya belum mencapai target pemerintah pusat. 

Karena itu, perangkat daerah terkait beserta jajarannya diharapkan dapat memaksimalkan inputan data bayi dan balita ke dalam aplikasi E-PPGBM, sebagaimana target pemerintah pusat sehingga dapat mengetahui secara pasti jumlah dan sebaran prevalensi stunting di Kabupaten Kotim. (yn/yit) 

loading...

BACA JUGA

Jumat, 24 Mei 2024 17:38

Sepuluh Kali Beruntun Raih WTP

SAMPIT – Pemerintah Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk yang…

Rabu, 22 Mei 2024 12:22

Pentingnya Kolaborasi antara TNI dan Pemkab

SAMPIT - Kolaborasi antara TNI dan pemerintah kabupaten (pemkab) dinilai…

Rabu, 22 Mei 2024 12:21

Ada Delapan Misi dalam RPJPD 2025-2045

SAMPIT - Ada delapan misi dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah…

Selasa, 21 Mei 2024 17:39

Eksekutif Usulkan Raperda Rencana Pembangunan 2025-2045

SAMPIT - Wakil Bupati Kotawaringin Timur Irawati menyampaikan pengantar atas…

Senin, 20 Mei 2024 16:58

TP PKK Kotim Tampil Memukau

SAMPIT – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten…

Jumat, 10 Mei 2024 16:26

Ajarkan WBP Budidaya Ikan Ramah Lingkungan

SAMPIT – Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memberikan pelatihan…

Jumat, 10 Mei 2024 16:25

Kerja Sama Pemkab dan TNI Permudah Masyarakat

SAMPIT – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor berharap sinergitas antara…

Rabu, 08 Mei 2024 13:17

Belasan Desa Sebagai Lokus Stunting

SAMPIT - Sebanyak 16 desa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim)…

Rabu, 08 Mei 2024 11:13

Bupati Resmikan Kantor Sekretariat Pokja Bunda PAUD

SAMPIT-Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor meresmikan Kantor Sekretariat Kelompok Kerja…

Rabu, 08 Mei 2024 11:13

Bupati Terkejut dengan Data Stunting

SAMPIT-Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor mengaku terkejut dengan data pemerintah pusat…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers