PANGKALAN BUN – Herliani DWK, SPd alias Herlin (40), guru SDN 4 Kotawaringin Hilir (Kohil) Kecamatan Kotawaringin Lama (Kolam), akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Kamis (12/4) malam sekitar jam 21.30 WIB, dalam perjalanan dirujuk ke Rumah Sakit Doris Sylfanus Palangka Raya. Sebelumnya, ia mengalami kecelakaan tunggal di kilometer 11 ruas jalan Pangkalan Bun-Kolam, Jumat (6/4) pekan lalu.
Sejak mengalami laka tunggal hingga dinyatakan meninggal di daerah Tangkiling Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya, mendiang Herlin sudah tidak sadarkan diri. Jenazahnya pun dimakamkam di TPU Skip Pangkalan Bun, Jumat (13/4) sekitar jam 09.00 WIB, kemarin. Dan sebelumnya disemayamkan di rumah duka di jalan Perwira, Gang Bunggur RT 07 Kelurahan Mendawai Pangkalan Bun.
Diantara ratusan pelayat, tampak hadir Kepala Dinas Dikbud Kobar Aida Lailawati, Wakil Ketua PGRI Kobar, Chaidir, Kepala Cabang Dinas Dikbud Kolam Muhamad Marhani, Kepala SDN 4 Kohil beseta dewan guru dan juga sejumlah pejabat dan kepala sekolah yang ada di Pangkalan Bun.
Kepala Cabang Dinas Dikbud Kolam, Muhamad Marhani mengatakan, pihaknya beserta seluruh jajaran PGRI di Kolam turut berbelasungkawa dan berharap Herlin yang meninggalkan seorang suami, tiga orang anak dan seorang ibu ini mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT. Dan keluarga yang ditinggalkan tabah dan sabar menghadapi musibah ini.
Marhani juga berharap dengan adanya musibah yang dialami wali kelas VI SDN yang berada di RT 01 Kohil ini dapat diambil hikmah dan pelajaran bagi seluruh guru, yang bertugas di Kecamatan Kolam.
“Dengan kejadian ini sebagai cermin kita semua, terutama untuk guru-guru di wilayah Kotawaringin Lama yang selalu pulang pergi dari Pangkalan Bun, sebaiknya kami menyarankan jangan pulang pergi lagi karena resiko di jalan cukup tinggi,” imbuhnya seusai melayat.
Dirinya juga menilai, infrastruktur jalan menuju ke Kolam masih belum memadai. Sehingga seharusnya guru-guru menginap di Kolam dan baru pada akhir pekan turun ke Pangkalan Bun.
“Seperti di SDN 4 Kotawaringin Hilir itu, rumah dinas guru ada dua buah tetapi sampai sekarang belum ada yang menempati. Selain itu, dengan melaksanakan tugas pulang pergi dari Pangkalan bun ke Kolam yang jaraknya 41 kilometer bahkan lebih, juga berdampak pada kinerja guru.
”Kalau selalu pulang pergi, kadang-kadang terlambat datang. Bahkan kalau pas hujan mungkin bisa terlambat berkepanjangan atau tidak akan turun dengan alasan jalannya lincin dan berlumpur,” pungkasnya.
Marhani menambahkan, ada sejumlah guru yang bertugas di Kolam mulai dari tingkat SD hingga SLTA yang tempat tinggalnya di Pangkalan Bun dan Kecamatan Kumai, dan tidak jarang diantara mereka mengalami kecelakaan namun tidak sepatal yang dialami mendiang Herliani.(gst/gus)