MANAGED BY:
RABU
12 DESEMBER
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | BARITO | KOLOM | EVENT

PALANGKA

Kamis, 06 Desember 2018 08:55
WASPADA!!! Stunting, Ancaman Produktivitas Generasi Masa Depan
1. AKTIF: Anak yang memiliki gizi baik, tergambar dari keaktifannya sehari-hari saat bermain bersama teman-temannya.(VIVIN/RADAR PALANGKA)

PROKAL.CO, BELAKANGAN  ini kata-kata stunting mulai mengemuka, khususnya di Kalteng. Secara sederhana stunting dapat dikategorikan sebagai kondisi gagal tumbuh pada anak balita alias kerdil. Dengan kata lain stunting adalah tinggi badan yang kurang menurut umur balita. Tepatnya bagi bayi  berusia di bawah dua tahun.

Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir. Namun kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran).

Penyebabnya karena rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, dan buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani.

Balita yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat berisiko pada menurunnya tingkat produktivitas.

Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab anak stunting apabila ibu tidak memberikan asupan gizi yang cukup dan baik. Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak.

Di Indonesia, sekitar 37 persen (hampir 9 juta) anak balita mengalami stunting (Riset Kesehatan Dasar/Riskesdas 2013) dan di seluruh dunia, Indonesia adalah negara dengan prevalensi stunting kelima terbesar. Balita/Baduta (Bayi dibawah usia Dua Tahun) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas. Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan.

Dalam rilis Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, pada Agustus 2017 lalu menyebut, pengalaman dan bukti Internasional menunjukkan bahwa stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan produktivitas pasar kerja, sehingga mengakibatkan hilangnya 11 persen GDP (Gross Domestic Products) serta mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20 persen. Selain itu, stunting juga dapat berkontribusi pada melebarnya kesenjangan/inequality, sehingga mengurangi 10 persen dari total pendapatan seumur hidup dan juga menyebabkan kemiskinan antar-generasi.

Sebuah ancaman yang cukup serius, bagi generasi masa depan yang diharapkan membawa tongkat estafet bagi pembangunan saat ini. Termasuk di Bumi Tambun Bungai, Bumi Pancasila, Kalimantan Tengah. 

Seyogyanya semua lini harus bekerjasama mengatasi stunting di Kalteng. Kendatipun suara yang nyaring terdengar untuk mengatasi stunting menggema dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalteng.   

Menurut BKKBN, Pemerintah Indonesia merancang dua kerangka besar Intervensi Stunting, yaitu Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif. Intervensi Gizi Spesifik, ini merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan berkontribusi pada 30 persen penurunan stunting dan kegiatan intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan dengan sasaran intervensi dimulai dari masa kehamilan ibu hingga melahirkan balita.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) termasuk kedalam tim intervensi percepatan penurunan pervalensi stunting yang bergerak di intervensi gizi sensitif melalui pengasuhan bagi orangtua dan anggota keluarga yang memiliki balita yang dikenal dengan program Bina Keluarga Balita (BKB). 

Di Bartim Kasus Stunting Tertinggi

Beberapa waktu lalu BKKBN Kalteng merilis data, untuk wilayah Kalteng kasus tertinggi stunting ada di Kabupaten Barito Timur (Bartim).  Ini diperkuat juga dengan data yang dirilis Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, pada Agustus 2017 di Kabupaten Bartim terdapat 6.362 balita menderita stunting.

Dalam sebuah kesempatan Bupati Bartim Ampera Y Mebas pun mengakui kondisi tersebut bahkan memaparkannya saat menyampaikan sambutannya saat acara Sosialisasi Kegiatan 1000 Hari Pertama Kehidupandi Tamiang Layang, baru-baru ini.

“Kita sangat miris karena di Kabupaten Barito Timur ada anak yang terindikasi  stunting seerti pada Desa Mangkarap, Rodok, Ampah Dua, Muara Plantau, Ketab, Kupang Bersih, Bararaw, Bambulung, Maruyuduyung dan Putut Tawuluh,” ucapnya.

Ia pun menegaskan Pemkab Bartim bertekad menolkan hal dimaksud. Salah satunya dengan meyukseskan agenda pembangunan nasional, khusus agenda prioritas ketiga yakni membangun Indonesia dari pinggiran dan agenda prioritas ke lima, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.

“Berkaitan dengan nawacita kelima, dilakukan upya pembangunan dengan mencanangkan desa sasaran program stunting,” tegasnya. 

Ia menyebut keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang mempunyai peran penting  dalam pendidikan anak untuk mewujudkan Generasi Emas 2045.

Ia menyebut, pemkab mendapatkan dukungan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, untuk mengembangkan Program Pemberian Dana Bantuan Penyelenggaraan Sosialisasi Pendidikan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) kepada Dinas Pendidikan. Dana bantuan dimaksud, untuk penyelenggaraan kegiatan sosialisasi pendidikan keluarga di 1.000 HPK.

Diharapkan dengan demikian dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman perwakilan masyarakat desa tentang pendidikan keluarga di 1.000 HPK, untuk mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah terjadinya stunting.  

 

Media Terlibat Aktif Sosialisasi Stunting

Beberapa waktu organisasi IMA World Health sebuah organisasi layanan perawatan kesehatan nirlaba internasional mengajak media di Kalteng terlibat dalam upaya sosialisasi stunting. Hasilnya, media pun terlibat aktif menyosialisasikan persoalan stunting.

Menurut fasilitator media Haris Sadikin, berdasarkan pantauan dan dalam banyak pertemuan didapatkan kesimpulan, persoalan stunting di Kalteng ini belum tersosialisasi dengan baik. Ditemukan penyebab stunting yang mengemuka di Kalteng dipengaruhi sejumlah faktor, diantaranya pernikahan dini, yang mengakibatan ketidakmatangan emosi dan pengetahuan kesehatan yang baik. Selain itu hubungan sosial juga mempengaruhi timbulnya stunting.

“Perlu diingat, stunting adalah persoalan kekurangan gizi kronis, yang dialami anak sejak usia nol tahun dalam kandungan. Jika orang tuanya tidak memiliki pemahaman yang baik tentang asupan gizi, akan berpengaruh pada janin,” ungkap Haris.

Ia menyebut, hasil temuan IMA World Health bersama medua ini sudah dilaporkan ke Kementerian Kesehatan dan Bappenas, berikut rekomendasinya.

Untuk mengatasi stunting, jelasnya, harus melibatkan multi sektoral, seperti kementerian kesehatan, kementerian pendidikan, perekonomian,  pemberdayaan perempuan juga BKKBN. Sebagai contoh, untuk menyiapkan calon ibu upaya edukasi bisa dimulai dari bangku sekolah, sebagai tempat penyiapan pengetahuan bagi calon ibu. Sebab, para calon ibu yang masih mengenyam pendidikan ini nantinya akan membangun rumah tangga dan melahirkan generasi berikutnya.

Salah satu upaya mencegah stunting dimulai dari penyiapan gizi yang baik dari calon ibu, mengingat ini sangat berpengaruh pada 1.000 HPK. Mulai dari kecukupan gizi yang dapat dipenuhi karena kemampuan ekonomi, hingga pengetahuan cukup selama kehamilan sampai kelahiran serta pertumbuhan balita. (*)

 

 

 

 


BACA JUGA

Rabu, 12 Desember 2018 10:29

Dewan Dukung Pengembangan Pariwisata Pulang Pisau

PULANG PISAU - Workshop Multipihak Pariwisata yang digelar di aula…

Rabu, 12 Desember 2018 10:27

Perlu Sinergi untuk Kembangkan Wisata Pulang Pisau

KUALA KAPUAS -  Dinas Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melaksanakan…

Rabu, 12 Desember 2018 10:15

Guru Dituntut Beradaptasi dengan Iptek

KASONGAN - ‎‎Seluruh tenaga pendidik alias guru yang mengabdikan diri…

Rabu, 12 Desember 2018 09:52

Terima BSPS, Rusus, dan Pembangunan Embung

KUALA KURUN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunung Mas (Gumas) menerima…

Rabu, 12 Desember 2018 09:50

PENTING NIH!!! Dinkes Gumas Diminta Aktif Antisipasi DBD

KUALA KURUN – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten…

Rabu, 12 Desember 2018 09:30

Batas Penangguhan Standar Upah Berakhir

PALANGKA RAYA – Selain menetapkan upah minimun provinsi (UMP) dan…

Selasa, 11 Desember 2018 17:05

Benda Ini yang Diduga Menjadi Penyebab Kebakaran Puluhan Rumah di Palangka Raya

PALANGKA RAYA – Kebakaran yang menghanguskan puluhan rumah penduduk di…

Selasa, 11 Desember 2018 15:40

Tekanan Darah Puluhan Korban Kebakaran Naik

PALANGKA RAYA – Musibah kebakaran yang menghanguskan puluhan rumah di…

Selasa, 11 Desember 2018 11:19

Dinsos Kalteng Siap Bantu Korban Kebakaran

PALANGKA RAYA –Dinas Sosial (Dinsos) Kalimantan Tengah (Kalteng) memfasilitasi pembangunan…

Selasa, 11 Desember 2018 11:18

Kebijakan Satu Peta Terus Berjalan

PALANGKA RAYA – Progres percepatan penyelesaian kebijakan satu peta di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .