SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | BARITO | GUMAS | DPRD SERUYAN

SAMPIT

Jumat, 29 Maret 2019 15:00
Buang "Hajat" di Rumah, Tapi Eh.. Jatuhnya ke Sungai Juga
BANTARAN SUNGAI: Warga Sampit memanfaatkan Sungai Mentaya untuk mandi, mencuci pakaian, buang air besar. Bahkan, saluran pembuangan jamban yang sudah dibangun di dalam rumah berujung di sungai. (DWI CIPTA/RADAR SAMPIT)

SAMPIT – Masalah buang air besar di sungai (BABS) masih menjadi masalah akut di Kotawaringin Timur. Sungai masih menjadi tempat buang air besar, terutama bagi warga di bantaran sungai.

Pantauan Radar Sampit di bantaran Sungai Mentaya, Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, sebagian warga masih menggunakan jamban di atas sungai. 

Rokhman, salah satu warga yang tinggal di bantaran sungai, mengaku masih menggunakan jamban di atas sungai karena memang tidak ada pilihan lain lagi.

"Mau gimana lagi, karena kita tinggal di pinggiran sungai, daripada mahal-mahal buat WC, mending manfaatkan yang ada saja," katanya, Kamis (28/3).

Rokhman menyatakan bahwa hal tersebut sudah menjadi pilihan terbaik bagi masyarakat sekitar bantaran sungai. Selain tempat eék, sungai juga sebagai tempat mandi dan mencuci pakaian.

"Kita manfaatkan yang ada saja, dan kalau untuk aktivitas sehari-hari, kita juga ambil dari sungai, airnya tinggal dikasih obat saja," ungkapnya.

Ada juga beberapa warga yang sudah membangun jamban di dalam rumah, namun pembuangan terakhirnya tetap menuju ke sungai.  Rumah Mulya, contohnya. Ibu rumah tangga ini mengatakan, hal tersebut memang menjadi pilihan terakhir bagi warga yang tinggal di bantaran sungai. Dengan kondisi pemukiman yang cukup padat ditambah dengan kondisi lahan yang tidak memungkinkan untuk membuat WC, akhirnya warga membuang limbah jamban ke sungai.

"Kita kan tinggal di pinggir sungai, rumah kita ini juga berada di atas air, di depan itu kan jalan raya, terus bagaimana kita mau membuat WC yang lebih baik? Gak bisa. Kita harus membongkar jalan untuk membuat saluran akhirnya," ujarnya.

Kondisi lapangan tidak memungkinkan bagi warga untuk membuat saluran WC yang tidak menuju ke sungai.  Oleh karena itu, dia mengharapkan solusi dari pemerintah jika memang hendak menuntaskan masalah BABS di Sampit ini.

"Kita sebenarnya ingin yang terbaik juga. Kami minta solusinya dari pemerintah bagaimana baiknya saja, karena seperti yang bisa dilihat, kondisi geografisnya sangat tidak memungkinkan," pungkasnya. (rm-98/yit)


BACA JUGA

Rabu, 09 September 2015 22:17

Dishub Diminta Tambah Traffic Light

<p><strong>PALANGKA RAYA</strong> &ndash; DPRD Kota Palangka Raya menilai sejauh…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers