PANGKALAN BUN - Pohon Aren diyakini sebagai tumbuhan endemik di Asia, tumbuhan Palma ini juga banyak tersebar di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Lamandau, Sukamara serta kabupaten lain di Kalteng. Salah satu tanaman Aren terbaik di Kabupaten Kobar terdapat di Kecamatan Kotawaringin Lama
Saat ini budidaya Aren di wilayah itu dikelola oleh masyarakat Kelurahan Kotawaringin Hulu. Aren yang mereka kembangkan sejatinya berasal dari jenis liar atau Aren hutan yang berada di kawasan bantaran Sungai Lamandau yang mengalir ke Kelurahan Kotawaringin Hulu dengan luasan areal perkebunan Aren liar sekitar 50 hektare.
Namun isi dari populasi tanaman aren tersebut hanya kurang lebih 10 hektar, itu terjadi karena dalam satu hektare lahan masih bercampur dengan tanaman lain seperti buah durian, asam, rambai, dan buah - buahan lainnya.
Saat ini tanaman aren liar tersebut dikelola oleh kelompok tani pengumpul air aren (nira). Jumlah anggota mereka sebanyak 30 orang, namun untuk saat ini yang benar - benar produktif melakukan kegiatan pengolahan hanya 10 - 15 orang. Satu orang anggota pengumpul nira ini mengelola lima pohon, apabila dalam satu pohon menghasilkan dua kilogram gula aren maka perorang bisa menghasilkan 10 kilogram perhari.
“Bila 10 kilogram dikalikan 10 anggota, maka dalam sehari mereka mampu berproduksi 100 kilogram gula aren, dikalikan 20 hari kerja menghasilkan 20 ton gula aren. Dihitung 20 hari karena mungkin ada kendala sehingga mereka tidak bisa berangkat menyadap aren,” beber Nusriadi, Lurah Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kolam, Kabupaten Kobar, Selasa (3/9)
Saat ini gula aren yang diproduksi warga Kecamatan Kotawaringin Hulu, Kabupaten Kobar, disebut sebagai yang terbaik di Indonesia. Hal ini berdasarkan statemen dari instruktur pembuatan gulan aren asal Yogyakarta yang menggelar pelatihan kepada petani aren di Kotawaringin Hulu beberapa waktu lalu. Menurut mereka selama bertahun-tahun menggelar pelatihan di berbagai kota di Indonesia, produksi nira di Kohul dianggap yang terbaik dari yang pernah mereka temukan selama ini.
Dalam memasarkan hasil produksinya, petani aren di Kohul juga tidak mengalami kendala, karena memang kualitas produksi gula aren di kelurahan tersebut sudah dikenal luas. Tidak hanya di Kobar, tetapi hingga kabupaten lain, bahkan hingga Pulau Jawa. Sehingga mereka tidak bersusah payah, karena pembeli akan datang sendiri ke tempat mereka.
“Untuk pemasaran tidak ada kendala, bahkan harga setiap tahun terus meningkat, dan pembeli juga harus inden (pesan) karena tingginya permintaan pasar, justru kendala yang dihadapi adalah rendahnya produksi petani aren,” terangnya.
Harga per kilogram gula aren produksi warga Kohul mencapai Rp 50 ribu, dan ini merupakan yang termahal bila dibandingkan dengan produk serupa di Pulau Jawa, Bali, dan Sulawesi yang harganya hanya berkisar Rp 25 ribu perkilogramnya.
Dengan harga yang begitu tinggi, maka rata - rata petani aren dapat mengantongi pendapatan perbulan hingga Rp 10 juta, jadi wajar petani aren di kelurahan ini cukup sejahtera, bahkan sudah bisa mengantarkan anak - anaknya hingga ke jenjang sarjana, dan ada yang sudah naik haji dari hasil jualan gula aren.
“Dibandingkan dengan biaya produksi, masih menutupi, bahkan berlebih karena modalnya hanya tenaga dan biaya produksi hanya kayu bakar yang diambil dari hutan setempat,” imbuhnya.
Namun dibalik kesuksesan petani aren di kelurahan setempat, ternyata ada sisi negatifnya, karena pengrajinnya sedikit maka ketika ada permintaan dalam jumlah besar belum tentu akan terpenuhi, apalagi jika permintaan skala nasional.
Untuk itu saat ini kelurahan sedang membudidayakan tanaman pohon aren yang totalnya sudah mencapai 40 hektar lebih, nantinya diharapkan dengan masa tanam selama 5 sampai 7 tahun sudah bisa berproduksi. “Maka ketika ada permintaan secara nasional kebutuhan akan tercukupi, dan pemerataan terhadap hasil budidaya dapat dirasakan oleh masyarakat luas, tidak hanya segelintir masyarakat saja,” terang Nusriadi. (tyo/sla)