SAMPIT – Satu dari ratusan warga yang menderita mual-mual lantaran diduga keracunan, akhirnya meninggal dunia. Namun, belum dipastikan apakah pria 70 tahun bernama Siun itu meninggal karena keracunan atau hal lain. Sebab, Siun diketahui memiliki riwayat penyakit lainnya.
Siun meninggal dunia pada Kamis (18/8) sekitar pukul 11.00 WIB. Jumat kemarin sudah dimakamkan sekitar pukul 09.00 WIB di Desa Tumbang Lahang.
Siun adalah satu dari 109 warga Desa Tumbang Koling, Kecamatan Cempaga Hulu yang menderita mual-mual dan buang air besar usai menyantap hidangan di rumah seorang warga. Menurut Kades Tumbang Koling, Nyahun RL, ada 60 lelaki dan 49 perempuan yang menderita gejala yang sama dengan Siun.
Hingga kemarin (19/8), sebagian besar sudah pulih. Bahkan ada yang sudah beraktivitas seperti biasa. Korban yang sebelumnya masih menggunakan infus, ada yang sudah bisa dilepas.
”Sementara yang meninggal itu tidak bisa kita pastikan apakah akibat keracunan atau seperti apa,” kata Nyahun kepada Radar Sampit, kemarin.
Keluarga Siun sendiri tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut. Mereka juga tidak berani memastikan penyebab meninggalnya kakek tersebut. ”Orang tua itu (Siun) memiliki penyakit komplikasi. Dari tim medis juga belum berani memastikan keracunan atau tidak,” kata Nyahun.
Menurut Nyahun, warga mengeluh sakit pada Selasa (16/8) dini hari. Saat petugas pos kesehatan pembantu di desa itu melakukan pengecekan terhadap sejumlah korban, mereka tidak bisa memastikan penyebab mual-mual dan buang air besar tersebut.
---------- SPLIT TEXT ----------
Selasa sore, Nyahun menerima laporan bahwa warga yang mengalami gejala serupa, sebelumnya hadir dalam acara di rumah warga bernama Rinto, sehari sebelumnya. Sehingga muncul dugaan korban keracunan usai menyantap hidangan di sana.
Akhirnya petugas kesehatan diturunkan. Warga diberi perawatan. Korban yang kondisinya menurun, langsung dibawa ke Puskesmas Pundu. ”Sementara untuk sampel makanan, Selasa itu juga kami minta pihak puskesmas untuk mengambilnya,” kata Nyahun.
Tim medis yang ikut membantu datang dari PT TASK, Puskesmas Pundu, Puskesmas Parenggean, PT BHL, serta lainnya. ”Menurut empat dokter yang merawat warga ini, tidak akan mungkin akan ada korban jiwa hanya karena keracunan. Kemungkinan ada penyakit lain yang membuatnya meninggal dunia. Pihak keluarga juga tidak mengatakan terindikasi racun,” tambahnya.
Masih ada dua warga yang harus rawat inap di Klinik PT TASK, dan enam lainnya dirawat di rumahnya masing-masing karena belum sembuh total. Sebagian warga yang sudah diperbolehkan pulang juga masih mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter.
Terpisah, Camat Cempaga Hulu Sukarnedi juga menyatakan hal sama. Meninggalnya Siun saat dibawa keluarganya menuju Desa Tumbang Lahang, Kecamatan Katingan Tengah, belum bisa dipastikan oleh pihak medis. ”Karena usia cukup lanjut, di samping itu juga ada penyakit lainnya yang sudah diderita lebih dahulu,” kata Sukarnedi.
Dikatakan Camat, secara keseluruhan korban sudah membaik dan tidak ada yang sampai dirujuk ke RSUD dr Murjani, Sampit.
Kepala Dinas Kesehatan Kotim dr Faisal Novendra Cahyanto mengaku petugas medis sudah turun ke lokasi kejadian dipimpin langsung oleh kepala Puskesmas Pundu. Namun menurutnya penyebab dari kejadian itu masih belum bisa dipastikan.
Karena harus melihat sampel makanan yang diambil. Namun dari pengalaman, dua kali kasus serupa yakni di Samuda Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, dan Cempaka Mulia Kecamatan Cempaga, semua berasal dari bakteri E-Coli.
”Hasilnya biasanya diketahui dalam tiga hari, tapi data hasilnya bersifat tertutup,” kata Faisal. (co/mir/dwi)