MANAGED BY:
JUMAT
18 OKTOBER
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | BARITO | KOLOM | EVENT

SAMPIT

Rabu, 09 Oktober 2019 14:37
Ubah Limbah Sawit, Jadi Pakan Ternak Sapi

Paryono, Petani Kotim yang Jadi Juara Umum KTNA Kalteng

PENGHARGAAN: Petani asal Kotim meraih juara umum sebagai petani teladan pada ajang Peda KTNA Tingkat Provinsi Kalteng.(IST/ RADAR SAMPIT)

PROKAL.CO, Berangkat dari seorang petani teladan di suatu desa di Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur, Paryono dikenal karena karyanya mengubah limbah sawit menjadi pakan ternak sapi. Berikut kisahnya.

 HENY, Sampit

Berawal dari petani hortikultura sejak tahun 1995 silam, mengantarkan Paryono menjadi petani sukses. Warga perantauan Jawa Tengah ini memulai usahanya menjadi petani dengan memanfaatkan lahan seluas dua hektare yang diberikan cuma-cuma dari pemerintah untuk warga transmigran.

Kepada Radar Sampit, Paryono bercerita, awal mula dia menjejakkan kaki di Bumi Habaring Hurung pada tahun 1991, di Desa Karang Sari, Kecamatan Parenggean.

”Awal merantau tidak langsung menjadi petani, saya bekerja dulu ikut pengusaha kayu yang saat itu sedang pesat perkembangannya,” kata pria kelahiran Grubugan, 14 Februari 1972 ini.

Menjadi buruh kayu tak membuatnya bertahan lama. Dia pindah ke Desa Sumber Makmur. Masih di kecamatan yang sama. Sejak itulah dia mulai memanfaatkan lahan yang tersedia untuk digarap menjadi ladang mata pencaharian.

Paryono menyulap lahan seluas dua hektare menjadi tanaman hortikultura seperti, sawi, terong, cabai, padi, timun, kacang panjang, kacang kedelai, jagung, dan aneka jenis tanaman lainnya.

”Tanaman ini saya tanam secara bergantian menyesuaikan musim,” ujarnya.

Setelah sekian lama menjadi petani, dia tertarik menjadi peternak sapi. Paryono kemudian datang ke Dinas Pertanian dan menyampaikan keinginan dan tekadnya dengan harapan dapat dibantu pemerintah kabupaten berupa sapi yang bisa diternakan.

”Setelah saya sampaikan keinginan dan niat saya untuk untuk usaha ternak, saya kemudian diarahkan masuk ke kelompok tani bernama Maju Jaya di Desa Sumber Makmur,” katanya.

Di tahun yang sama, pemerintah memberikan bantuan berupa 55 ekor sapi yang dibagi rata untuk semua anggota di kelompok tani Maju Jaya. Bantuan tersebut diperolehnya melalui dana anggaran pendapatan belanja negara perubahan (APBN-P) pada tahun 2010.

”Dari bantuan APBN-P itu, saya kebagian mendapat dua ekor sapi dan baru terealisasi di tahun 2011. Dari bantuan tersebut, kami yang termasuk dalam anggota kelompok tani mulai memelihara bersama,” katanya.

Hal berkesan di tahun 2012 kembali mengingatkan kenapa dia bisa sampai menjadi petani sukses seperti sekarang.

Dia menuturkan, tahun 2012 lalu ada program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalteng.

“Mereka saat itu datang mengadakan pembinaan dan pelatihan dan mengenalkan pengolahan pakan ternak sapi yang berasal dari limbah sawit,” katanya.

Setelah pelatihan tersebut, Paryono tidak langsung mencoba mempraktikkan teknologi yang ramah lingkungan dan menguntungkan tersebut.

Namun, susahnya mencari rumput untuk pakan sapi membuatnya kembali berpikir untuk mencobanya. ”Enggak langsung saya terapkan, tetapi makin bertambah tahun saya menyadari mencari rumput juga cukup susah dan saya pikir tidak ada salahnya saya mencoba teknik tersebut,” ujarnya.

Sejak 2015 itulah dia memanfaatkan pelepah sawit dan campuran lainnya untuk membuat pakan sapi dari limbah sawit.

”Saya juga kebetulan punya kebun kelapa sawit lebih dari tiga hektare. Dari limbah sawit itulah saya kelola menjadi pakan ternak sapi,” ujarnya.

Tak sampai di situ, dia juga memanfaatkan kotoran sapi menjadi pupuk kompos dan air kencing sapi menjadi bio urin atau pupuk cair yang digunakan sebagai pupuk di kebun sawitnya serta tanaman lainnya.

”Hasil dari limbah sawit ini apabila dikelola menjadi pakan ternak juga aman, karena ada berbagai campuran yang kami tambahkan untuk menambah daya tahan tubuhnya agar sehat dan gemuk seperti sapi yang terawat,” ujarnya.

Di samping itu, menurutnya, pakan dari limbah sawit juga tak menimbulkan bau yang tidak nyaman.

”Justru saya bisa membandingkan dengan menggunakan limbah sawit sebagai pakan sapi. Kotoran sapinya tidak berbau, padahal saya tinggal di permukiman padat penduduk, tetapi memang tidak berbau,” ujarnya.

Akhir tahun 2015, dia mencoba program baru bernama bio industri dan sudah menjadi pelaku mandiri.

”Bio industri ini saya coba kembangkan menjadi biogas dari kotoran sapi yang difermentasi untuk digunakan sebagai bahan pengganti elpiji, tetapi saya masih dibimbing BPTP,” ujarnya.

Pada 2017, dia melaunching produk pakan bernama feed complate yang terdiri dari tiga jenis produk, yakni untuk penggemukan hewan ternak, perkembangbiakan, dan untuk konsentrat atau digunakan sebagai suplemen tambahan untuk sapi.

”Produk untuk penggemukan saya jual Rp 2200 per kg, untuk perkembangbiakannya Rp 1.800 per kg, sedangkan untuk suplemen makanan tambahannya Rp 3.200 per kg,” katanya.

Dari teknologi yang sukses diterapkannya berkat bimbingan BPTP Kalteng tersebut, menjadikannya petani sukses pada pekan daerah Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) tingkat Provinsi Kalteng yang dilaksanakan di Kotim pada Juli 2019 lalu.

Hasil karyanya diperhitungkan dan layak untuk diteladani petani lainnya untuk  memanfaatkan limbah sawit menjadi pakan ternak sapi.

”Awalnya kami mendapatkan peringkat lima besar, kemudian pada peringatan 17 Agustus 2019 lalu kita diberitahu kita dari Kotim masuk juara umum mewakili Provinsi Kalteng tetapi belum diumumkan juara 1, 2, dan 3-nya.  Setelah diumumkan, kami (Kotim) meraih juara II dan menjadi tuan rumah terbaik  dalam pelaksanaan KTNA yang dilaksanakan di Kotim Juni lalu,” ujarnya.

Sejak tahun 2015, dia bertekad menjadikan segala sesuatunya menjadi bermanfaat yang bisa memperbaiki perekonomian bagi dirinya dan warga sekitarnya.

Berkat ketekunannya berusaha, dari hanya punya dua ekor sapi, sekarang sudah punya delapan ekor sapi yang terus dikembangbangbiakan. Bahkan, sudah ada 10 petani yang dia tularkan ilmunya untuk menerapkan teknik pengolahan limbah sawit menjadi pakan ternak.

Petani tersebut di antaranya berasal dari Tualan hHulu, Palangka Raya Km 39, Desa Sari Harapan Kecamatan Parenggean, Desa Sumber Makmur.

”Awalnya mereka membeli pakan dengan saya. Setelah saya berikan pelatihan menularkan ilmu untuk mereka, akhirnya mereka mulai mengembangkannya sendiri dan ada beberapa petani baru yang mencoba teknik ini, di antaranya Desa Pundu, Cempaga Hulu, Telaga Antang, dan dua Desa Bandar Agung dan Beringin Tunggal Jaya di Kecamatan Parenggean yang baru bergabung,” ujarnya.

Ke depannya, Paryono berharap Kotim bisa menjadi daerah swasembada daging dan dapat melahirkan para peternak andal yang mampu mengembangbiakan sapi lokal menjadi sapi unggul. (***/ign)


BACA JUGA

Jumat, 18 Oktober 2019 14:48

INNALILLAH...ya. Wartawan Antara Untung Setiawan Tutup Usia

SAMPIT –  Insan pers yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia…

Jumat, 18 Oktober 2019 09:20

Gubernur Dukung Aspirasi Masyarakat Dayak

PALANGKA RAYA–Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Sugianto Sabran mendukung pernyataan sikap…

Kamis, 17 Oktober 2019 15:36

Kasus Kematian Nur Fitri Dipertanyakan Lagi

SAMPIT – Kasus pembunuhan terhadap Nur Fitri (24) masih diselimuti…

Kamis, 17 Oktober 2019 15:33

AWASSSS!!! Politik Transaksional Lahirkan Kepala Daerah Korup

SAMPIT – Penetapan tersangka terhadap mantan Bupati Seruyan Darwan Ali…

Kamis, 17 Oktober 2019 15:21

Zam’an Berpotensi Jegal Supriadi

SAMPIT – Langkah Supriadi memarkir Partai Golkar untuk kendaraan politiknya…

Kamis, 17 Oktober 2019 15:19

Lagi dan Lagi, Lapas Terus Kebobolan

PALANGKA RAYA – Ketatnya pengamanan di penjara selalu dibobol para…

Kamis, 17 Oktober 2019 15:17

Dari Penjaga Sekolah, sampai Mencalonkan Diri Jadi Cawabup Kotim

Redy Setiawan tak ingin ketinggalan bersaing dalam Pilkada Kotim 2020.…

Kamis, 17 Oktober 2019 15:15

Diduga OD, Amoy Tewas Setelah Telan Ekstasi

SAMPIT - Satu dari tiga orang tersangka kasus penyalahgunaan narkoba…

Rabu, 16 Oktober 2019 17:00

Proyek Ini Jadi Bencana Dua Penguasa

SAMPIT – Proyek pembangunan Pelabuhan Laut Teluk Segitung di Kabupaten…

Rabu, 16 Oktober 2019 16:38

Radar Sampit Sepuluh Besar Nasional

SAMPIT – Surat Kabar Harian (SKH) Radar Sampit meraih penghargaan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*