KUALA KAPUAS – Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang terjadi setiap tahun kini ada solusinya. Bupati Kapuas Ben Brahim S Bahat melahirkan inovasi yang diyakini mampu mengatasi bencana tahunan itu. Dia mengklaim gagasan itu merupakan yang pertama kali di dunia.
Ben menuturkan, cara mengatasi karhutla bisa dilakukan dengan membuat sejenis kincir angin atau baling-baling. Baling-baling itu berfungsi memompa air menggunakan tenaga angin agar air terus mengalir.
Menurutnya, sumber air yang digunakan untuk membasahi lahan gambut itu berasal dari embung yang telah dibuat. Dengan demikian, lahan gambut akan menjadi lembab walaupun saat musim kemarau.
”Karena lahan gambut mirip spon, ketika tersiram air, maka kondisinya akan lembab walaupun pada saat musim kemarau,” kata Ben seperti dikutip dari www.zonakalteng.co.id, Senin (10/2).
Ben menuturkan, hasil inovasi yang tersebut merupakan solusi yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi masalah ketersediaan air apabila memasuki kemarau yang rentan karhutla. Hal itu mengingat Kapuas ada dua daerah, yaitu pasang surut dan nonpasang surut.
Lebih lanjut Ben mengatakan, inovasi tersebut merupakan yang pertama di Indonesia, bahkan di dunia. Dia mempersilakan siapa saja yang ingin menggunakan gagasannya demi kebaikan bersama sebagai antisipasi karhutla. Cara itu dinilai tak banyak menelan biaya.
”Lebih baik kalau ada embung, sehingga air bisa terpompa terus membasahi lahan, dan air tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk lahan perkebunan dan bidang peternakan,” ujar Bupati Kapuas yang mendapatkan piala adipura untuk pertama kali dan opini Wajar Tanpa Pengecualian dan BPK RI ini.
Sebelumnya Ben juga tercatat memiliki prestasi terkait penemuannya. Yakni memiliki hak paten (hak cipta) nasional dan internasional bidang konstruksi jembatan. Pada bidang lain, dia juga menjadikan Kapuas sebagai lumbung padi Kalteng dan lumbung semangka untuk Kalteng-Kalsel.
Mantan Kepala Dinas PU Kalteng ini juga merupakan salah satu pelaku yang membuka keterisolasian Kalteng dengan membuka seluruh ruas jalan negara dan jalan provinsi di Kalimantan. Termasuk ruas jalan batas Banjarmasin-Kapuas-Pulang Pisau-Palangka Raya-Kasongan-Sampit-Pangkalan Bun-Sukamara-Lamandau-Batas Kalbar, dan lainnya. Dia ikut berperan aktif mensurvei, merencanakan, dan membangun jalan dan jembatan di Kalteng sejak tahun 1985.
Sementara itu, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang digelar di aula kantor Bupati Kapuas, Ben mengatakan, Pemkab Kapuas telah membentuk Satgas (Satuan Tugas) untuk pengendalian karhutla mulai dari tingkat desa sampai kabupaten. Hal tersebut cukup efektif dilaksanakan.
Dia meminta agar keperluan Satgas, terutama di desa, bisa dianggarkan dari dana desa. ”Untuk tingkat kecamatan agar dapat melakukan koordinasi dengan desa dan kabupaten. Kabupaten harus terus memonitor kondisi wilayah. Intinya, kita melakukan sosialisasi dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan seluruhnya. Dengan kebersamaan, saya yakin dan percaya karhutla Kapuas bisa kita atasi,” ujarnya.
Di samping itu, orang nomor satu di Kapuas ini juga menekankan agar semua pihak tak lengah dan perlu sedini mungkin melakukan persiapan dan langkah dalam upaya pencegahan dan pengendalian karhutla. Itu mengingat Kapuas terdapat lahan gambut terbesar di Kalimantan Tengah. (ign)