MANAGED BY:
SABTU
22 FEBRUARI
SAMPIT | PANGKALANBUN | PALANGKA | KOTAWARINGIN | METROPOLIS | BARITO | KOLOM | EVENT

SAMPIT

Senin, 10 Februari 2020 15:46
Cap Go Meh Bisa Tarik Wisatawan, Warga Tionghoa di Sampit Berharap Dukungan
SEMBAHYANG: Umat Vihara Karuna Maitreya (VKM) Sampit saat menjalankan ibadah perayaan Cap Go Meh, Sabtu (8/2).(YUNI/RADAR SAMPIT)

PROKAL.CO, SAMPIT – Masyarakat Tionghoa di Kabupaten Kotawaringin Timur berharap Pemkab bisa mendukung penuh perayaan Imlek maupun Cap Go Meh. Hal tersebut dinilai mampu menarik wisatawan agar datang ke Kotim.

Perayaan Cap Go Meh 2571 tahun 2020 berlangsung Sabtu (8/2). Cap Go Meh merupakan hari terakhir dari masa perayaan Imlek. Dirayakan pada hari ke-15 dan hari terakhir masa perayaan Tahun Baru Imlek.

Cap Go Meh sedikit berbeda dengan Imlek. Imlek dirayakan dengan sembahyang ke kelenteng atau vihara untuk memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan. Kemudian dilanjutkan dengan berkumpul dan makan bersama keluarga.

Ketua Vihara Karuna Maitreya  (VKM) Sampit Yohanto mengatakan Cap Go Meh sebagai puncak perayaan tahun baru imlek yang jatuh pada tanggal 15 penanggalan Imlek.

"Acara puncak tahun baru di tanggal 15 penanggalan Imlek yang disebut dengan Cap Go Meh. Tata ritual sembahyang Tahun Baru Imlek berbeda dengan ritual sembahyang Cap Go Meh," ujarnya.

Saat menjelang pergantian tahun Cina atau Imlek, ada ritual khusus untuk peninggalan tahun yang lama menyambut tahun baru. Sementara Cap Go Meh secara keseluruhan ritualnya hampir sama dengan ritual sembahyang di vihara umumnya, yakni sembahyang untuk mengucap syukur dan memohon keselamatan.

Wakil Ketua Vihara Karuna Maitreya Ong Agus menambahkan, perayaan Cap Go Meh adalah  perayaan warga Tionghoa, bukan milik agama tertentu. Perayaan Cap Go Meh di Sampit semakin tidak terasa karena pergeseran zaman.

”Mungkin karena ada yang menganggap perayaan ini milik agama tertentu, jadi perayaan saat ini sudah semakin tidak terasa. Ini yang perlu diluruskan. Perayaan ini merupakan budaya warga Tionghoa," ungkapnya.

Ong Agus bercerita, pada zaman dahulu, tanggal 15 penanggalan Imlek bertepatan dengan bulan purnama. Saat itu ada satu keluarga yang turun ke jalan sambil membawa lentera atau lampion. Kebiasaan itu kemudian berlanjut menjadi festival Cap Go Meh. Festival dilakukan malam hari dengan menyediakan banyak lampion dan aneka lampu warna-warni. Lampion adalah pertanda kesejahteraan hidup bagi seluruh anggota keluarga.

Ketika Cap Go Meh, biasanya akan ada Tarian Barongsai dan Liong (naga). Masyarakat juga bisa makan onde-onde. Sepanjang perayaan, diramaikan dengan kembang api dan petasan. Namun karena zaman yang mulai berubah, kebiasaan itu saat ini sudah jarang dilakukan.

Bagi warga Tionghoa, barongsai merupakan simbol kebahagiaan, kegembiraan, dan kesejahteraan. Sedangkan Liong dianggap sebagai simbol kekuasaan atau kekuatan. Sementara petasan dipercaya dapat mengusir energi negatif dan akan membersihkan seluruh lokasi yang dilalui Barongsai.

Perayaan Cap Go Meh di beberapa daerah di Indonesia juga berlangsung sangat meriah. Salah satunya di Pontianak. Pontianak menjadi salah satu daerah yang banyak dipilih wisatawan untuk menyaksikan Cap Go Meh. Ada rangkaian kegiatan yang berlangsung untuk memeriahkan Cap Go Meh, seperti karnaval arak-arakan naga.

Yohanto berharap perayaan Imlek maupun Cap Go Meh di Sampit bisa meriah seperti di Pontianak. Dia juga berharap ada dukungan dari Pemkab Kotim untuk mewujudkannya. Sebab, hal itu dapat menarik wisatawan datang ke Sampit.

”Harapannya, kalau bisa warga Tionghoa di Sampit ke depannya membuat perkumpulan bersama mengadakan event, seperti Imlek atau Cap Go Meh. Menghidupkan kembali tradisi budaya Tionghoa untuk menarik wisatawan," ujar Yohanto.

Menurutnya, masing-masing bisa menampilkan kesenian seperti barongsai, liong,  festival lampion, dan bisa juga menghadirkan budaya lain, seperti reog atau budaya lokal warga asli Sampit. Dengan demikian, diharapkan akan semakin mempererat kebersamaan masyarakat. (yn/ign)

 


BACA JUGA

Sabtu, 01 Februari 2020 10:11

Warga Pamalian Desak Selesaikan Jembatan

SAMPIT – Jembatan Desa Pamalian, Kecamatan Kotabesi yang dibangun sejak…

Sabtu, 01 Februari 2020 10:05

Peserta Lomba Free Fire Membeludak, Gamers Masih Punya Kesempatan

SAMPIT – Kompetisi game online Free Fire yang akan digelar…

Jumat, 31 Januari 2020 17:22

Bantah Survei Nasdem, PANTAS Klaim Teratas

SAMPIT – Pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati Kotim…

Jumat, 31 Januari 2020 17:19

Kaca Mobil Dipecah, Rp 249 Juta Raib

SAMPIT – Warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) patut waspada. Pasalnya,…

Jumat, 31 Januari 2020 17:09

Proyek Rumah Sakit Jadi Temuan BPK

SAMPIT – Proyek di lingkungan RSUD dr Murjani Sampit jadi…

Jumat, 31 Januari 2020 11:56

Hikmah Jumat: Jaga Lisan dan Kemaluan!

Bismillah. Jika lisan ini rusak maka akan rusak amal. Jika…

Jumat, 31 Januari 2020 10:10

Cuaca Dingin, Nikmatnya Menyantap Kembang Tahu

SAMPIT–Ingin menikmati kuliner penghangat badan di saat cuaca dingin? Kembang…

Kamis, 30 Januari 2020 17:52

Halikinnor, Rudini, dan Suprianti Kuasai Survei Calon Bupati Kotim

SAMPIT – Persaingan merebut hati rakyat dalam Pilkada Kotim 2020…

Kamis, 30 Januari 2020 16:30

Di Pondok Ini, Ayah Bejat Bunuh Anak Sekaligus Cucunya

PURUK CAHU – Perilaku biadab ayah bejat yang tega menghamili…

Kamis, 30 Januari 2020 14:28

Wajib Kenakan Pakaian Khusus, Hasil Laboratorium Jadi Penentu

Menangani penyakit mematikan yang menggemparkan dunia tak bisa sembarangan. Tenaga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers